Sabtu, 05 Mei 2012

Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di MTs MALNU Kananga-Pandeglang


A.    Latar Belakang Masalah
Dalam dunia kependidikan, persoalan yang berkenaan dengan guru dan jabatan guru senantiasa menjadi salah satu pokok bahasan yang mendapat tempat tersendiri di tengah-tengah ilmu kependidikan yang begitu luas dan kompleks. Sehubungan dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan guru yang semakin meningkat, baik dalam mutu maupun jumlahnya, maka program pendidikan guru menjadi prioritas pertama dalam program pembangunan pendidikan di negara kita.
Tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik atau guru, karena guru harus memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap calon pendidik atau guru sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[1]
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalamproses belajar mengajar selalu ditekankan pada pengertian interaksi yaitu hubungan timbal balik antara guru dengan murid, hubungan interaksi antara guru dengan murid ini harus diikuti oleh tujuan pendidikan.
Dalam upaya membantu murid untuk mencapai tujuan, maka guru harus memaksimalkan peran sebagai guru yang berkompeten, diantaranya mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat.
Harus disadari bahwa mengajar dan belajar mempunyai fungsi yang berbeda, proses yang tidak sama dan terpisah. Perbedaan antara mengajar dan belajar bukan hanya disebabkan karena mengajar dilakukan oleh seorang guru sedangkan proses belajar berlangsung di dalamnya. Bila proses belajar mengajar berjalan secara efektif, itu berarti telah terbina suatu hubungan yang unik antara guru dan murid, proses itu sendiri adalah mata rantai yang menghubungkan antara guru dan murid.[2]
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder, ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain- lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapatdicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru, dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.[3]
Adapun kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab terkait dengan profesi keguruannya. Karena jabatan guru merupakan pekerjaan profesi, maka kompetensi guru sangatlah dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, kompetensi menunjukkan kepada perbuatan yang bersifat rasional untuk mencapai suatu tujuan yang sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi ini diperoleh melalui proses pendidikan atau latihan. Salah satu faktor yang paling menentukan berhasilnya proses belajar mengajar adalah guru, seorang guru perlu memiliki kompetensi untuk mengorganisasi ide-ide yang dikembangkan di kalangan peserta didiknya sehingga dapat menggerakkan minat dan semangat belajar mereka.
Evaluasi merupakan tahapan setelah proses belajar-mengajar dilaksanakan, dengan demikian lengkaplah siklus belajar-mengajar sebagai suatu proses yang interaktif edukatif, mulai dari perumusan tujuan sampai kepada penyediaan sarana pedukung interaksi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antara guru dan anak didik merupakan kegiatan yang dominan. Dalam kegiatan itu, guru tidak hanyamentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mentransfer nilai-nilai lepada anak didik sebagai subyek yang belajar. Kegiatan itu melibatkan komponen- komponen yang antara satu dengan yang lanilla saling menyesuaikan dan menunjang dalam pencapaian tujuan belajar bagi anak didik. Dengan demikian, dalam kegiatan interaksi belajar mengajar, metode bukanlah satu- satunya, tetapi faktor anak didik, guru, alat, tujuan, dan lingkungan juga turut menentukan interaksi tersebut.[4]
Dalam kaitannya dengan peserta didik pada usia dini, maka guru hendaknya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik. Guru dituntut untuk memantau pertumbuhan fisik dan mengeksplorasi potensi yang dimiliki anak, karena pada usia ini kecerdasan mereka sedang berkembang dengan pesat.
Salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan di negara kita adalah disebabkan tenaga pendidik yang kurang berkompeten. Sehingga upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sukar untuk di wujudkan dan pada akhirnya kebodohan akan berdampak pada kemiskinan. Untuk itu, maka guru sebagai komponen pendidikan harus menunjukkan kualitasnya sebagai tenaga pendidik yang ahli dibidangnya.
Fenomena yang sering terjadi, tenaga pendidik khususnya di tingkat MTs (Madrasah Tsanawiyah) belum memenuhi kualifikasi sebagai guru yang berkompeten, khususnya kompetensi pedagogik yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran. Misalnya guru belum mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran atau belum mampu menyusun rancangan pembelajaran dengan baik. Padahal guru tidak lagi bertindak sebagai penyaji informasi tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, maupun pembimbing yang senantiasa berupaya memaksimalkan perkembangan potensi yang dimiliki peserta didik.
Dengan demikian seorang guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang unggul dibidangnya, baik itu kompetensi pedagogik, kepribadian, social maupun kompetensi profesional harus dimiliki oleh seorang guru selaku tenaga pendidik. Masalah kompetensi pedagogik guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis berupaya untuk mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul “ Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di MTs MALNU Kananga-Pandeglang”.

B.     Identifikasi dan Pembatasan Masalah
C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang
2.      Untuk mendeskripsikan upaya peningkatan kompetensi pedagogic guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang
3.      Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang
2.      Manfaat Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah disebutkan, maka dalam penelitian ini diharapkan berguna bagi lembaga, bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi penulis.
1.      Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan, serta mampu mendiagnosa problem yang terjadi dalam dunia pendidikan, sehingga pada pelaksanaannya tidak bersifat teoritis saja melainkan bagaimana pelaksanaan di lapangan.
2.      Bagi Lembaga
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai ikhtisar pengetahuan bagi semua pihak yang berkorelasi dengan dunia pendidikan khususnya dan dapat dijadikan masukan bagi sekolah pada umumnya serta bagi para guru agar dapat dijadikan acuan dalam upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru, sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan efektif dan efisien dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
3.      Bagi Peneliti
Untuk memperkaya khasanah pemikiran dan memperluas wawasan dalam bidang pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kompetensi guru, serta dapat dijadikan pijakan sebagai calon sarjana yang dituntut siap terjun dalam dunia pendidikan.

D.    Langkah-langkah Penelitian
1.      Tempat dan Waktu
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian akan dilakukan untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan berkaitan dengan masalah penelitian. Dalam hal ini, lokasi penelitian adalah MTsN Pohjentrek-Pasuruan.
2.      Sumber Data
Menurut Lofland, yang dikutip oleh Moleong, sumber data penelitian yang kualitatif adalah kata-kata atau tindakan, selebihnya adalah data tambahan, seperti dokumen, dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu, pada bagian itu, pada bagian ini, jenis datanya terbagi menjadi kata-kata dan tindakan , sumber data tertulis, dan foto.
1.      Kata-kata dan Tindakan.
Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes, pengambilan foto, atau film. Pencatatan data utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya.[5] Dalam penelitian ini, penulis mengambil data dengan melakukan wawancara dengan pengurus yayasan/ kepala sekolah dan para guru di MTs MALNU Kananga-Pandeglang.
2.      Sumber Tertulis
Sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.[6] Untuk mendapatkan sumber tertulis, penulis meminta izin mengambil data dari arsip dan dokumen MTs MALNU Kananga-Pandeglang.
3.      Foto
Foto sudah banyak dipakai sebagai alat untuk keperluan penelitian kualitatif karena dapat dipakai dalam berbagai keperluan. Foto menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi-segi subjektif dan hasilnya sering dianalisis secara indukatif.[7]
Di sini peneliti mendapatkan sumber data langsung dari subyek penelitian yaitu kepala sekolah dan guru-guru di MTs MALNU Kananga-Pandeglang sebagai sumber informasi yang dicari untuk mendapatkan data bagaimana upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang. Selain itu juga data berupa dokumentasi dan gambar.
3.      Alat Pengumpul Data
Untuk data yang sesuai dengan masalah dan obyek yang diteliti, maka dalam teknik pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode antara lain:
1.      Metode Observasi
Observasi atau pengamatan adalah teknik pengumpulan data, yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala- gejala yang diselidiki.[8]Peneliti menggunakan observasi sistematik, cirri pokok observasi sistematik adalah adanya kerangka yang memuat faktor- faktor yang telah diatur kategorinya, karenanya sering disebut observasi berkerangka/observasi berstruktur.[9]
Metode observasi ini penulis pergunakan untuk memperoleh data tentang keadaan MTs MALNU Kananga-Pandeglang dan kompetensi pedagogik guru di MTs MALNU Kananga-Pandeglang yang meliputi observasi kompetensi pedagogik yang dimiliki guru, upaya yang dilakukan dalam peningkatan kompetensi pedagogik guru, dan faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru.
2.      Metode Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barng-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan- peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.[10]
Dokumen yang dicari berupa dokumen-dokumen sekolah yang dijadikan obyek penelitian, selain itu metode ini dipergunakan untuk mengetahui dan mengungkap data latar belakang obyek seperti data guru, siswa, fasilitas dan lainnya.
4.      Metode Interview ( wawancara )
Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang. Penelitian ini menggunakan interview bebas, dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan.[11]
Dalam pembahasan skripsi ini, interview dilakukan dengan kepala sekolah, dan para guru. Wawancara dalam penelitian digunakan untuk memperoleh data tentang upaya yang dilakukan oleh lembaga/yayasan, kepala sekolah, maupun guru itu sendiri dalam peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang.

E.     Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis permasalahan ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan beberapa tahapan yaitu identifikasi. Klasifikasi selanjutnya dilakukan interpretasi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan kualitatif dan menganalisa  ata untuk mendapatkan keterangan yang mendalam dari obyek yang bersangkutan.
Adapun maksud dari tahapan-tahapan tersebut diatas adalah : Tahap pertama, yaitu identifikasi dengan mengenal dan mengetahui lingkungan yang diteliti baik internal maupun eksternal. Peneliti disini harus mengetahui dan mengenal keadaan obyek penelitian.
Tahap kedua, klasifikasi yaitu peneliti mengolong-golongkan dan mengoreksi sumber data apa yang dibutuhkan. Tahap ketiga, interpretasi yaitu peneliti menafsirkan metode yang akan digunakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan kualitatif.
F.     Sistematika Pembahasan
Pembuatan skripsi ini dikemukakan dengan sistem pembahasan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami gambaran secara global dari seluruh skripsi ini. Adapun sistematika pembahasan ini ada enam bab dan tiap bab terdiri dari beberapa sub yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan sekitar masalah yang dibahas dalam penulisan ini yang bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap masalah-masalah yang dibahas dan fungsi sebagai landasan dalam melaksanakan penelitian lapangan. Permasalahan meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, ruang lingkup pembahasan, definisi operasional, dan sistematika pembahasan.
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan secara rinci tentang kompetensi pedagogik guru, yang meliputi: Pertama, pengertian kompetensi, kompetensi pedagogik, indikator kompetensi pedagogik guru. Kedua, tentang proses belajar mengajar, yang meliputi: pengertian proses belajar mengajar, tujuan dalam proses belajar mengajar, metode dalam proses belajar mengajar. Ketiga, upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru. Dan keempat, faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar.
BAB III. METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara peneliti memperoleh hasil penelitian yang bertujuan mempermudah dalam penelitian di lapangan. Bab ini meliputi pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, teknik analisa data, pengecekan keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV. HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti di lapangan, bab ini meliputi latar belakang obyek penelitian yang terdiri dari: sejarah singkat berdirinya RA Al-Ikhlas Sukodadi Lamongan, visi dan misi, struktur organisasi, keadaan guru, keadaan siswa, sarana dan prasarana, dan letak geografis. Penyajian data, meliputi kompetensi pedagogic guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang, upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru, dan faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam proses belajar mengajar di MTs MALNU Kananga-Pandeglang .
BAB V. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang pembahasan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti di lapangan. Pada bab ini akan membahas temuan- temuan penelitian yang telah dikemukakan dalam sebelumnya yang mempunyai arti penting bagi keseluruhan penelitian, untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini.
BAB VI. PENUTUP
Bab ini menjelaskan secara global dari semua pembahasan skripsi dengan menyimpulkan semua pembahasan dan memberi beberapa saran dalam meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. Tujuannya mempermudah pembaca untuk mengambil inti sari dari pembahasan skripsi ini.


[1] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 29
[2] Thomas Gordon, Guru Yang Efektif: Cara Untuk Mengatasi Kesulitan Dalam Kelas, (Jakarta: Rajawali, 1990), hlm. 3
[3] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hlm. 12
[4] Saiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), hlm. 100
[5] Ibid, hlm. 157
[6] Ibid, hlm. 159
[7] Ibid, hlm. 169
[8] Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 70
[9] Ibid, hlm. 72
[10] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu pendektan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 158
[11] Ibid, hlm 155-156
Poskan Komentar