Rabu, 02 Mei 2012

proposal skripsi bahasa indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, terutama dalam teknologi percetakan maka semakin banyak informasi yang tersimpan di dalam buku. Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang harus dikuasai siswa. Dengan membaca siswa akan memperoleh berbagai informasi yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, membaca merupakan jendela dunia, siapa pun yang membuka jendela tersebut dapat melihat dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi. Baik peristiwa yang terjadi pada masa lampau, sekarang, bahkan yang akan datang.
Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca. Oleh karena itu, sepantasnyalah siswa harus melakukannya atas dasar kebutuhan, bukan karena suatu paksaan. Jika siswa membaca atas dasar kebutuhan, maka ia akan mendapatkan segala informasi yang ia inginkan. Namun sebaliknya, jika siswa membaca atas dasar paksaan, maka informasi yang ia peroleh tidak akan maksimal.
Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang yang tertulis semata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca, agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya.
Kegiatan membaca juga merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Dikatakan aktif, karena di dalam kegiatan membaca sesungguhnya terjadi interaksi antara pembaca dan penulisnya, dan dikatakan reseptif, karena si pembaca bertindak selaku penerima pesan dalam suatu korelasi komunikasi antara penulis dan pembaca yang bersifat langsung.
Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi yang dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui berbagai macam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Melalui membaca, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui dan dipahami sebelum dapat diaplikasikan.
Menurut DP. Tampubolon (1987:5) membaca merupakan satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan.
Adapun menurut Henri Guntur Tarigan (1979:1) kemampuan bahasa pokok atau keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi, yaitu :
a.       Keterampilan menyimak/mendengarkan (Listening Skills)
b.      Keterampilan berbicara (Speaking Skills)
c.       Keterampilan membaca (Reading Skills)
d.      Keterampilan Menulis (Writing Skills)
Empat keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lain, dan saling berkorelasi. Seorang bayi pada tahap awal, ia hanya dapat mendengar, dan menyimak apa yang di katakan orang di sekitarnya. Kemudian karena seringnya mendengar dan menyimak secara berangsur ia akan menirukan suara atau kata-kata yang didengarnya dengan belajar berbicara. Setelah memasuki usia sekolah, ia akan belajar membaca mulai dari mengenal huruf sampai merangkai huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata bahkan menjadi sebuah kalimat. Kemudian ia akan mulai belajar menulis huruf, kata, dan kalimat.
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa dan merupakan suatu kegiatan yang mempunyai hubungan dengan proses berpikir serta keterampilan ekspresi dalam bentuk tulisan walaupun menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, tetapi dalam proses pembelajaran bahasa tidak mungkin dipisahkan dengan keterampilan berbahasa yang lain seperti mendengarkan, berbicara an membaca. Keempat keterampilan berbahasa itu terdapat saling melengkapi.
Sebagaimana dalam kurikulum 2004 (KBK) yang kemudian disempurnakan dengan kurikulum 2006 (KTSP) mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (SMA) disebutkan bahwa salah satu tujuan pengajaran bahasa Inggris adalah mengembangkan kemampuan dalam bahasa tersebut, dalam bentuk lisan dan tulis.
Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
Berkomunikasi secara lisan dan tulis dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai secara lancar dan akurat dalam wacana interaksional dan atau monolog yang melibatkan wacana berbentuk, deskriptif, naratif, argumentatif, dan persuasif variasi ungkapan makna interpersonal, ideasional, dan tekstual sederhana (Depdiknas, 2004:8).
Pengajaran keterampilan menulis bahasa Indonesia untuk siswa SMA diarahkan ke pencapaian kompetensi yang dapat terlibat dalam kemampuan siswa mengungkapkan berbagai makna dengan langkah-langkah retorika yang benar di dalam teks tertulis tentang suatu topik berkaitan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual), dengan penekanan ciri-ciri ragam bahasa tulis. Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Menurut Akhadiah, dkk (1988:2) bahasa menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat. Dalam proses pembelajaran keterampilan ini bisa diwujudkan dalam bentuk materi menulis teks berita dengan berbagai indikatornya.
Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan menulis bahasa Indonesia yang diberikan pada siswa kelas XI di SMK  sebagai  Malnu Kananga Menes salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikembangkan di sekolah, dengan tujuan untuk memberikan bekal pada siswa dalam hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Para siswa memposisikan diri sebagai diri sendiri yang memerlukan sesuatu bekal untuk kehidupannya nanti. Siswa perlu mengerti apa makna belajar keterampilan menulis bahasa Inggris bagi dirinya, apa manfaatnya dan bagaimana usaha mereka mencapainya sehingga mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.
Keterampilan berbahasa berkorelasi dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. sehingga ada sebuah ungkapan, “bahasa seseorang mencerminkan pikirannya”. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya.
Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak dini, yakni mulai dari anak mengenal huruf. Jadikanlah kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan dan menjadi hal yang menyenangkan bagi siswa. Membaca dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja asalkan ada keinginan, semangat, dan motivasi. Jika hal ini terwujud, diharapkan membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan seperti sebuah slogan yang mengatakan “tiada hari tanpa membaca”.
Tentunya ini memerlukan ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih kebiasaan membaca agar kemampuan membaca, khususnya membaca pemahaman dapat dicapai. Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan (DP. Tampubolon, 1991:7).
Keluhan tentang rendahnya kebiasaan membaca dan kemampuan membaca di tingkat Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), tidak bisa dikatakan sebagai kelalaian guru pada sekolah yang bersangkutan. Namun hal ini harus dikembalikan lagi pada pembiasaan membaca ketika siswa masih kecil. Peranan orang tualah yang lebih dominan dalam membentuk kebiasaan membaca anak. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki kebiasaan membaca yang tinggi sedangkan orang tuanya tidak pernah memberikan contoh dan mengarahkan anaknya agar terbiasa membaca. Karena seorang anak akan lebih tertarik dan termotivasi melakukan sesuatu kalau disertai dengan pemberian contoh, bukan hanya sekedar teori atau memberi tahu saja. Ketika anak memasuki usia sekolah, barulah guru memiliki peran dalam mengembangkan minat baca yang kemudian dapat meningkatkan kebiasaan membaca siswa. Dengan demikian, orang tua dan guru sama-sama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca anak.
Kenyataan menunjukkan soal-soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) sebagian besar menuntut pemahaman siswa dalam mencari dan menentukan pikiran pokok, kalimat utama, membaca grafik, alur/plot, amanat, setting, dan sebagainya. Tanpa kemampuan membaca pemahaman yang tinggi, mustahil siswa dapat menjawab soal-soal tersebut. Di sinilah peran penting membaca pemahaman untuk menentukan jawaban yang benar. Belum lagi dengan adanya standar nilai kelulusan, hal ini memicu guru bahasa Indonesia khususnya untuk dapat mencapai target nilai tersebut.
Atas dasar hal tersebut penulis mencoba mengadakan penelitian tentang hubungan kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita . Hasil penelitian tersebut dibahas dalam sekripsi yang berjudul Hubungan Kemampuan Membaca Pemahaman Dengan Kemampuan Menulis Teks Berita Siswa Kelas XI di SMK Malnu Kananga Menes”.

B.           Identifikasi Masalah

Adapun masalah yang akan dikemukakan dalam penelitian ini adalah :
a.       Bagaimana kebiasaan membaca siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes ?
b.      Hal apa saja yang dapat menghambat kebiasaan membaca pemahaman siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes ?
c.       Hal apa yang dapat menunjang kebiasaan membaca siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes ?
d.      Bagaimana kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes
e.       Adakah korelasi antara kebiasaan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes ?

C.          Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi menjadi :
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah pada “Hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes”.

Perumusan Masalah

Setelah dilakukan pembatasan masalah, dalam penelitian ini masalah dirumuskan menjadi : Adakah korelasi antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes ?

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi siswa, guru bahasa indonesia, orang tua, dan penulis sendiri khususnya dalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca agar terbentuk budaya baca di masyarakat dengan harapan agar dapat meningkatkan kemampuan menulis teks berita

D.    Hipotesa Penelitian.

Hipotesa adalah yang mungkin benar atau mungkin salah, maka penelitian tersebut akan ditolak jika salah dan diterima jika benar.


Adapun hipotesa yang penulis gunakan adalah :
1.      Hipotesa kerja (Ha).
Yaitu hipotesa alternatif yang menyatakan adanya hubungan antara independent variabel dengan dependen variabel yaitu : ada hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI di SMK Malnu Kananga Menes.
2.      Hipotesa nihil (Ho).
Hipotesa nihil yaitu hipotesa yang menyatakan adanya persamaan atau tidak adanya perbedaan antara kedua variabel yaitu : tidak ada hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI di SMK Malnu Kananga Menes

E.     Metodologi Penelitian

Langkah penulisan dalam penelitian ini terdiri atas :
1.      Metode
Operasionalisasi penelitian dilakukan dengan cara menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang diarahkan untuk memecahkan permasalahan dengan memaparkan atau menggambarkan apa adanya mengenai objek yang menjadi penelitian.



2.      Teknik Penelitian
a.  Observasi
Menurut Kartini Kartono (1990:157) observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena-fenomena sosial, dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Di dalam pengertian psikologik, observasi (pengamatan) meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera, baik itu melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Dalam artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, maupun rekaman suara. (Arikunto, 1997:133). Secara garis besar, dalam penelitian ini peneliti sebagai partisipan, artinya bahwa peneliti merupakan bagian yang integral dari situasi yang dipelajarinya, sehingga kehadirannya tidak mempengaruhi situasi tersebut dalam kewajarannya. (Nasution, 1991:146). Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data-data yang sebagaimana peneliti rumuskan dalam rumusan masalah dan segala hal yang terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung baik teknis maupun non teknis yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis teks siswa, observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung.
b.  Angket
Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi pertanyaan tersebut bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna. Orang yang diharapkan memberikan respons ini disebut Responden. Menurut cara memberikan respons, angket dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: angket terbuka dan angket tertutup.
1) Angket terbuka adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya, dalam artian angket yang jawabannya diserahkan sepenuhnya kepada responden. Angket terbuka digunakan apabila peneliti belum dapat memperkirakan atau menduga kemungkinan alternatif jawaban yang ada pada responden
2) Angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda Conteng (M) pada kolom atau tempat yang sesuai, dalam artian angket yang jawabannya sudah disediakan oleh peneliti. (Arikunto, 2005:102).
Dari keterangan diatas, dalam hal ini peneliti memilih angket terbuka sebagai teknik pengumpulan data dengan tujuan agar rumusan masalah dapat terjawab.
c.  Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Maka, metode dokumentasi dapat dikatakan sebagai tehnik pengumpulan data dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, majalah, surat kabar, prasasti, notulen rapat, agenda, dsb. (Arikunto, 2005:135). Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang latar belakang SMK Malnu Kananga Menes, yang meliputi sejarah singkat berdirinya, visi-misi dan tujuan, struktur organisasi, keadaan guru dan staf, keadaan siswa-siswi, serta keadaan sarana dan prasarana yang tersedia.
d.   Library research (penelitian Perpustakaan)
Yaitu meliputi kepustakaan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dibahas, metode ini digunakan dalam kaitannya buku-buku atau teori-teori pembahasan yang berhubungan dengan referensi membaca pemahaman dan menulis.
3.      Populasi dan Sampel.
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi, penelitian populasi dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua liku-liku yang ada di dalam populasi.
Metode penarikan/pengambilan data yang melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus.
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah kelas XI terdiri atas 2kelas, yaitu :
Kelas XI A : 32 siswa.
Kelas XI B : 30 siswa.
  62 siswa.

Sedangkan sampel adalah sebagian sebagian dari populasi terjangkau yang memiliki sifat yang sama dengan populasi. menurut Suharsimi Arikunto  2002 : 9) sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.
Dalam pengambilan sampel  Arikunto menyatakan bahwa: “Sekedar ancer-ancer, bila jumlah anggota populasi 100 atau lebih maka sampel bisa diambil 10-15% atau 20-25%. Sedangkan jika anggota populasi kurang dari 100, maka sebaiknya semua anggota populasi dijadikan sampel (penelitian populasi)”.
Berdasarkan pernyataan tersebut maka penulis mengambil seluruh populasi untuk dijadikan sampel yaitu 62 siswa.
4.      Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu menggunakan prinsip kebenaran logika untuk data kualitatif dan menggunakan statistika untuk pengolahan data yang bersifat kuantitatif, khsusnya uji korelasi dengan langkah sebagai berikut:
a.       Tendensi Sentral
1)      Menentukan total range (R) dengan rumus
R=(Xmax-Xmin)+1
Dimana:
R         =total range yang dicari
Xmax      =skor atau nilai tertinggi
Xmin       =skor atau nilai terendah
1          =bilangan/konstanta
2)      Menentukan jumlah kelas interval dengan menggunakan rumus
K=1+3,3 log N
Dimana :
K    = jumlah nilai kelas
N    = banyaknya data atau sampel
3)      Menentukan panjang interval kelas dengan menggunakan rumus
i =
Dimana :
i      = panjang interval kelas
R    = rentang/jangkauan
K    = jumlah interval kelas
4)      Membuat tabel distribusi frekuensi dengan tabel sebagai berikut :
Kelas interval
f
xi
fixi
fr










5)      Menentukan rerata (mean) dengan menggunakan rumus :
Mx =
Dimana :
Mx       = mean yang dicari
    = hasil kali antara masing-masing kelas interval dengan frekuensinya
      = banyaknya data
6)      Menentukan nilai tengah (median) dengan menggunakan rumus :
Dimana :
Me = nilai median yang dicari
bb = nilai batas bawah
i   = panjang interval kelas
½ = konstanta
N = jumlah sampel
F = jumlah frekuensi sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
7)      Menentukan nilai modus dengan menggunakan rumus :
Dimana :
Md = nilai modus yang dicari
bb  = nilai batas bawah
i     = panjang interval kelas
d1 = nilai kelas modus dikurangi sebelum kelas modus
d2 = nilai kelas modus dikurangi sesudah kelas modus
b.      Uji Normalitas
1.      Membuat daftar distribusi frekuensi
2.      Mencari standar deviasi
3.      Membuat tabel distribusi observasi dan ekspektasi untuk memperoleh harga uji normalitas
4.      Menghitung nilai Chi kuadrat (X2)
5.      Menentukan derajat kebebasan
6.      Menentukan chi kuadrat (X2) dari daftar dengan taraf signifikan 95% (0,05)
7.      Penentuan normalitas Y (M. Subana dkk, 2000:38)
c.       Kualifikasi Variabel Y
Untuk kualifikasi kategori variabel \y akan digunakan standar kualifikasi sebagai berikut :
80 -100
Baik sekali
66 – 79
Baik
56 – 65
Cukup
40 – 35
Kurang
30 – 39
gagal

Analisis dimaksud untuk mengukur kadar keterkaitan antara variabel quantun quotien terhadap prestasi belajar. Analisis yang digunakan adalah regresi, uji linieritas, dan korelasi. Sistematika dan rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
1)      Menghitung persamaan regresi linier
Y = a + bX
Dimana :
2)      Menghitung koefesien korelasi variabel X dan Y
-          Jika kedua variabel berdistribusi normal dan berregresi linier, maka digunakan korelasi product moment sebagai berikut :
-          Jika salah satu atau dua variael berdistribusi tidak normal dan regresinya tidak linier, maka digunakan statistik non parametric, yang tidak koefisien korelasi dengan rumus :
3)      Menentukan tinggi rendahnya korelasi dengan menggunakan rumus konversi sebagai berikut :
0,00 – 0,20
Hampir tidak ada korelasi
0,21 – 0,40
Korelasi rendah
0,41 – 0,60
Korelasi sedang
0,61 – 0,80
Korelasi tinggi
0,81 – 1,00
Korelasi sempurna

4)      Menghitung kadar peranan
Untuk mengukur besar kecilnya peranan variabel X terhadap variabel Y, terlebih dahulu harus dihitung derajat tidak adanya korelasi, menggunakan rumus :
Dimana :
K = derajat tidak ada korelasi
1 = konstanta
r = korelasi yang dicapai
setelah diperoleh angka-angka dari rumus tersebut, maka dapat dihitung kadar peranannya dengan menggunakan rumus :


E = 100 (1 – K)
Keterangan :
E    = indeks ramalan
100 = seratus persen
1     = konstanta
K    = derajat tidak ada korelasi
5)      Interpretasi akhir
Apabila korelasi antara variabel X dengan Y benar adanya, maka membuktikan kebenaran hipotesis awal yang menyatakan ada hubungan antara kemampuan membaca pemahaman siswa dengan kemampuan menulis teks berita siswa di SMK Malnu Kananga Menes.
Sebaliknya jika ternyata hasil perhitungannya hipotesis nol (Ho) maka berarti tidak ada hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa di SMK Malnu Kananga Menes.



































.
BAB II
KERANGKA TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.          Kajian Teori
Guna mengkaji lebih dalam lagi tentang judul skripsi ini, maka perlu di ketengahkan beberapa teori yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas. Untuk itu penulis mengambil beberapa pendapat dan pikiran pokok para ahli, yang kemudian dijadikan acuan guna menunjang penelitian ini.
1.      Membaca
a.       Pengertian Membaca
Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Dalam kegiatan membaca, kegiatan lebih banyak dititikberatkan pada keterampilan membaca daripada teori-teori membaca itu sendiri.
Henry Guntur Tarigan menyebutkan tiga komponen dalam keterampilan membaca, yaitu:
1)            Pengenalan terhadap aksara-aksara serta tanda-tanda baca.
2)            Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal.
3)            Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna.1
Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami benar-benar bahwa membaca adalah suatu metode yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis.
Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”2. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, yakni memahami makna yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.
Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Membaca merupakan suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding process).
Membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu maka para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi atau memberi responsi terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda oditori dan berbicara haruslah selalu mendahului kegiatan membaca.
Harimurti Kridalaksana mengatakan “Membaca adalah menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram maupun dari kombinasi itu semua”3
Soedarso berpendapat bahwa “Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat”4.
DP. Tampubolon berpendapat bahwa “Membaca adalah kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan”5.
Bahkan ada pula beberapa penulis yang beranggapan bahwa membaca adalah suatu kemauan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui suatu metode pengajaran membaca seperti fonik (ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi membaca lisan.
Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.

b.      Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.
Henry Guntur Tarigan mengemukakan tujuan membaca adalah sebagai berikut:
1)      Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).
2)      Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).
3)      Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization).
4)      Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).
5)      Membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
6)      Membaca menilai, membaca evaluasi (reading to evaluate).
7)      Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast)6.
Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta misalnya untuk mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.
Membaca untuk memperoleh ide-ide utama misalnya untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya.
Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita seperti menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian buat dramatisasi.
Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi seperti menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.
Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan misalnya untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.
Membaca menilai, membaca mengevaluasi seperti untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.
Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan dilakukan untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca.
Nurhadi berpendapat bahwa tujuan membaca adalah sebagai berikut:
1.      Memahami secara detail dan menyeluruh isi buku.
2.      Menangkap ide pokok atau gagasan utama secara tepat.
3.      Mendapatkan informasi tentang sesuatu.
4.      Mengenali makna kata-kata.
5.      Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar.
6.      Ingin memperoleh kenikmatan dari karya sastra.
7.      Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia.
8.      Ingin mencari merk barang yang cocok untuk dibeli.
9.      Ingin menilai kebenaran gagasan pengarang.
10.  Ingin memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan.
11.  Ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) tentang definisi suatu istilah.7

c.       Aspek-aspek Membaca
Membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih kecil lainnya.
Secara garis besar aspek-aspek membaca dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1)      Keterampilan yang bersifat mekanis mencakup:
a)      Pengenalan bentuk huruf
b)      Pengenalan unsur-unsur liguistik (fonem, kata, frase, pola klausa, kalimat, dan lain-lain).
c)      Pengenalan hubungan atau korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan bahan tertulis).
d)     Kecepatan membaca bertaraf lambat.
2)      Keterampilan yang bersifat pemahaman mencakup:
a)      Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal).
b)      Memahami signifikasi atau makna (misalnya maksud dan tujuan pengarang relevansi/keadaan kebudayaan, reaksi pembaca).
c)      Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.8
d.      Jenis-jenis Membaca
Membaca sebagai suatu aktivitas yang kompleks, mempunyai tujuan yang kompleks dan masalah yang bermacam-macam. Tujuan yang kompleks merupakan tujuan umum dari membaca. Di samping tujuan umum itu tentu terdapat pula bermacam ragam tujuan khusus yang menyebabkan timbulnya jenis-jenis membaca, ditinjau dari segi bersuara atau tidaknya orang waktu membaca itu terbagi atas:
1)      Membaca yang Bersuara
Yaitu suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama orang lain. Jenis membaca itu mencakup:
a)      Membaca nyaring dan keras
Yakni suatu kegiatan membaca yang dilakukan dengan keras, dalam buku petunjuk guru bahasa Indonesia untuk SMA disebut membacakan. Membacakan berarti membaca untuk orang lain atau pendengar, guna menangkap serta memahami informasi pikiran dan perasaan penulis atau pengarangnya. Membaca nyaring ini biasa dilakukan oleh guru, penyiar TV, penyiar radio, dan lain-lain.

b)      Membaca Teknik
Membaca teknik biasa disebut membaca lancar. Dalam membaca teknik harus memperhatikan cara atau teknik membaca yang meliputi:
(1)         Cara mengucapkan bunyi bahasa meliputi kedudukan mulut, lidah, dan gigi.
(2)         Cara menempatkan tekanan kata, tekanan kalimat dan fungsi tanda-tanda baca sehingga menimbulkan intonasi yang teratur.
(3)         Kecepatan mata yang tinggi dan pandangan mata yang jauh.

c)      Membaca Indah
Membaca indah hampir sama dengan membaca teknik yaitu membaca dengan memperlihatkan teknik membaca terutama lagu, ucapan, dan mimik membaca sajak dalam apresiasi sastra.

2)      Membaca yang Tidak Bersuara (dalam hati)
Yaitu aktivitas membaca dengan mengandalkan ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Jenis membaca ini biasa disebut membaca dalam hati, yang mencakupi:
a)      Membaca teliti.
b)      Membaca pemahaman.
c)      Membaca ide.
d)     Membaca kritis.
e)      Membaca telaah bahasa.
f)       Membaca skimming.
g)      Membaca cepat.
Membaca teliti yaitu membaca yang menuntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh.
Membaca pemahaman yaitu membaca yang penekanannya diarahkan pada keterampilan memahami dan menguasai isi bacaan. Jenis membaca inilah yang akan penulis kaji lebih dalam lagi.
Membaca ide yaitu membaca dengan maksud mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.
Membaca kritis yaitu membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan.
Membaca telaah bahasa mencakup dua hal, yaitu:
a)      Membaca bahasa asing yaitu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memperbesar daya kata dan mengembangkan kosa kata.
b)      Membaca sastra yaitu membaca yang bercermin pada karya sastra dari keserasian keharmonisan antara bentuk dan keindahan isi.
Membaca skimming (sekilas) adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok9.
Membaca cepat adalah keterampilan memilih isi bahan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan kita, yang ada relevansinya dengan kita, tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak kita perlukan10.
2.      Membaca Pemahaman
a.       Pengertian Membaca Pemahaman
M. E. Suhendar berpendapat bahwa, “Membaca pemahaman ialah membaca bahan bacaan dengan menangkap pokok-pokok pikiran yang lebih tajam dan dalam, sehingga terasa ada kepuasan tersendiri setelah bahan bacaan itu dibaca sampai selesai”11.
Sedangkan Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa, “Membaca pemahaman ialah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, dan pola-pola fiksi”12.
Untuk keterampilan pemahaman, hal yang paling tepat digunakan adalah membaca dalam hati, yang dapat dibagi dalam:
1)      Membaca ekstensif yang berarti membaca secara luas
Membaca ekstensif mencakup:
a)      Membaca Survei
Yaitu membaca dengan meneliti terlebih dahulu apa yang akan kita telaah dengan jalan melihat judul yang terdapat dalam buku-buku yang ada hubungannya, kemudian memeriksa atau meneliti bagan skema yang bersangkutan.


b)      Membaca Sekilas (Skimming)
Yaitu membaca yang membuat kita bergerak dengan cepat melihat, memperlihatkan bahan tertulis untuk mencari arti, mendapatkan informasi/penerangan.
c)      Membaca Dangkal
Yaitu membaca untuk memperoleh pemahaman yang tidak mendalam dari suatu bacaan.

2)      Membaca Intensif yang berarti studi seksama telaah, teliti dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari.
Membaca Intensif mencakup:
(1)         Membaca telaah isi yang mencakup:
(a)    Membaca teliti yaitu membaca yang menuntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh.
(b)   Membaca kritis yaitu membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis dan bukan hanya mencari kesalahan.
(c)    Membaca ide yaitu membaca yang ingin mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.
(d)   Membaca pemahaman yaitu membaca yang penekanannya diarahkan pada keterampilan memahami dan menguasai isi bacaan.
Oleh karena itu pembaca atau siswa dituntut untuk:
-          Memahami kata-kata yang dibacanya dan memahami arti
-          Mampu mengidentifikasi arti yang sudah dikenal dalam konteks yang dibaca.
-          Mampu untuk menerka arti kata yang belum dikenal dalam konteks yang dibaca.
-          Mampu menangkap ide pokok bacaan.
-          Mampu menangkap perincian.
-          Mampu memahami maksud penulis.

(2)         Membaca telaah bahasa, yang mencakup:
(a)    Membaca bahasa asing yaitu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata.
(b)   Membaca sastra yaitu membaca yang bercermin pada karya sasta dari keserasian keharmonisan antara bentuk dan keindahan isi.

b.      Kemampuan Membaca
Menurut DP. Tampubolon yang dimaksud dengan kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan13.
Menurut Akhmad bahwa “Kemampuan membaca adalah kemampuan untuk memahami informasi yang terkandung dalam materi cetak”14.
Sedangkan menurut Yeti Mulyati, bahwa “Kemampuan membaca adalah kesanggupan melihat serta memahami isi dari pada yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati”15.
Kemampuan membaca dapat ditingkatkan dengan penguasaan teknik-teknik membaca efektif dan efisien. Membaca pemahaman dan efektif bukan berarti asal membaca pemahaman saja, sehingga karena cepatnya begitu selesai baca tak ada yang diingat dan dipahami.
Kemampuan membaca harus diimbangi oleh pemahaman terhadap bacaan tersebut. Pembaca yang efektif dan kritis harus mampu menemukan bagian penting dari bahan bacaan tersebut secara tepat. Biarkan bagian yang kurang penting bahkan melewatinya bila memang tidak diperlukan.

c.       Teknik Pengajaran Membaca
1)      Lihat dan Baca
Teknik ini dapat berupa Fonem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, semboyan dan puisi pendek.



2)      Menyusun Kalimat
Melalui kegiatan ini siswa dapat belajar menyusun kalimat. Teknik pengajaran membaca melalui penyusunan kalimat melibatkan keterampilan membaca dan menulis.
3)      Menyempurnakan Paragraf
Suatu paragraf yang telah disusun oleh guru dihilangkan sebuah kata pada setiap kalimat. Paragraf ini kemudian diberikan kepada guru untuk dibaca kemudian mengisi kotak kosong dengan kata yang tepat.
4)      Mencari Kalimat Topik
Suatu bacaan yang panjang dalam suatu cerita dapat disingkat dengan mengambil kalimat topik.
5)      Menceritakan Kembali
Melaui kegiatan ini siswa mampu menceritakan kembali suatu informasi yang telah diterimanya melalui suatu bacaan.
6)      Parafrase
Guru mempersiapkan bahan bacaan puisi bila perlu menerangkan makna kata-kata puisi yang dianggap sukar, setelah itu siswa membaca kembali puisi itu dengan teliti lalu mengekspresikan isinya dengan kata-kata sendiri.
7)      Melanjutkan Cerita
Guru memilih suatu cerita yang cocok untuk siswa, cerita tiu dihilangkan sebagian. Bagian yang dihilangkan boleh permulaan cerita atau akhir cerita, setelah siswa membawa cerita yang sebagian itu mereka ditugaskan melengkapi cerita yang kemudian dibandingkan dengan cerita aslinya.
8)      Mempraktikkan Petunjuk
Membaca petunjuk sering kali kita praktikkan dalam hidup sehari-hari. Obat yang kita beli selalui mengikuti petunjuk cara pemakaiannya. Radio yang kita belipun ada petunjuk pengoperasiannya.
9)      Baca dan Terka
Kecermatan membaca dan menangkap isi dalam baca dan terka sangat diperlukan. Tidak hanya isi yang tersurat kadang-kadang pun isi yang tersirat. Beda yang tidak pernah disebutkan namanya secara ekplisit. Karena itu diperlukan kejelian dan ketajaman pemahaman.
10)  Membaca Sekilas
Membaca sekilas dilakukan untuk memperoleh kesan umum dari sesuatu bacaan. Bila yang dibaca daftar isi maka perhatian pembaca hanya kepada butir-butir yang dibicarakan. Dalam membaca sekilas terkandung makna mencari intisari bahan bacaan.
11)  Membaca Sepintas
Dilakukan untuk menemukan suatu informasi secara tepat. Informasinya sudah ditentukan sebelumnya. Membaca sepintas walaupun cepat harus teliti dan penuh kesiapan menangkap informasi.


12)  SQ3R
Salah satu teknik pengajaran membaca yang digunakan dalam kelas 3 tinggi ialah metode telaah tugas atau SQ3R. S adalah singkatan dari Survey, Q adalah singkatan dari Question, R adalah singkatan dari Read, R2 adalah singkatan dari Ricite dan R3 adalah singkatan dari Review.
13)  Individualize Intruction
Salah satu teknik pengajaran membaca yang tergolong maju dan modern ialah Individualize Intruction. Prinsip dasar yang mendasari teknik pengajaran ini adalah bahwa anak normal dapat belajar membaca dan dapat mempunyai sikap cinta membaca.

d.      Metode Pengajaran Membaca
Metode pengajaran membaca akan sedikit banyak dipengaruhi oleh materi, tugas metode-metode yang lazim di pakai antara lain:
a)            Metode Ceramah
Penuturan bahan pengajaran secara lisan.
b)            Metode Diskusi
Yakni bertukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih cermat tentang permasalahan atau topik yang sedang dibahas. Metode ini berusaha mendiskusikan suatu masalah dan mencari jalan keluarnya serta melatih keterampilan berpikir murid secara kritis.

c)            Metode Pemberian Tugas
Yakni memberikan kesempatan kepada siswa melakukan tugas yang berhubungan dengan pelajaran seperti mengerjakan soal-soal.
d)           Metode Tanya Jawab
Yakni metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat terarah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa.
e)            Metode Sosio Drama atau Bermain Peran Dan lain-lain
Semua metode pada dasarnya baik. Hal ini berhubungan dengan jenis materi, tujuan materi, tujuan dan situasi serta keterampilan guru yang menggunakannya. Pemilihan metode yang tepat dalam pelaksanaan pengajaran membaca inilah yang dinamakan teknik. Jadi teknik adalah operasional yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan pengajaran membaca.
f)             Metode Karyawisata
Mengajar dengan peragaan secara langsung berupa objek pelajaran yang sesungguhnya, sehingga murid memperoleh gambaran langsung tentang apa yang dipelajarinya.
g)            Metode Demontrasi dan Eksperimen
Mencoba mengusahakan agar para murid memperoleh pengertian lebih jelas tentang suatu hal, misalnya dengan peragaan atau murid mencoba sendiri.

h)            Metode Drill
Metode mengajar dengan latihan-latihan.

e.       Faktor yang menyebabkan anak tidak mampu membaca, diantaranya ialah:
1)      Faktor Eksternal
Yaitu hal-hal yang mempengaruhi anak yang berasal dari luar anak didik, meliputi:
a)      Lingkungan Keluarga
(1)         Perhatian orang tua terhadap minat baca anak masih bersikap masa bodoh.
(2)         Kemampuan ekonomi orang tua yang rendah.
(3)         Perpustakaan rumah belum dibina karena terbentur perekonomian yang tidak menunjang.
(4)         Kondisi orang tua dan keluarga masih bersikap tradisional, yaitu lihat, dengar, dan ngomong.
b)      Lingkungan Sekolah
(1)         Kurangnya dorongan guru terhadap anak didik.
(2)         Kurangnya bahan bacaan yang bermutu tentang membaca, baik substansi maupun metedologi membaca serta penataan perpustakaan sekolah yang masih amburadul.
c)      Lingkungan Masyarakat
(1)         Suasana lingkungan sosial masyarakat yang tidak kondusif (bising).
(2)         Teman sebaya yang lebih suka melakukan hal-hal yang negatif.
(3)         Media elektronik yang digunakan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, seperti TV, radio, komputer dan sejenisnya.
2)      Faktor Internal
Yaitu hal-hal yang mempengaruhi anak yang berasal dari dalam diri anak didik, meliputi:
a)      Rasa ingin tahu yang minim terhadap fakta, teori, prinsip, pengetahuan, informasi dan sebagainya.
b)      Tak merasa haus akan informasi, karena merasa tidak membutuhkannya.
c)      Belum tertanam “membaca merupakan kebutuhan rohani”

f.       Mengembangkan Keterampilan Membaca
Tugas guru ialah membimbing dan membantu siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan-keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini adalah keterampilan membaca.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan agar siswa memiliki keterampilan membaca ialah:
1)            Membantu siswa untuk memperkaya kosakata dengan cara:
a)      Memperkenalkan sinonim, antonim, parafrase, kata-kata dasar yang mendasar sama.
b)      Memperkenalkan imbuhan (awalah, sisipan dan akhiran).
c)      Mengira-ngira makna kata-kata dari konteks atau hubungan kalimat.
d)     Menjelaskan arti suatu kata abstrak.
2)            Membantu siswa untuk memahami makna struktur-struktur kata, kalimat dan sebagai dan diberikan seperlunya.
3)            Guru dapat memberikan penjelasan pengertian kiasan, sindiran, ungkapan, pepatah, pribahasa.
4)            Guru mengajukan pertanyaan menanyakan ide pokok suatu paragraf, menunjukan kalimat yang kurang baik, menyuruh membuat rangkuman.
5)            Guru menyuruh membaca dalam arti dengan waktu yang terbatas, bibir tidak boleh digerak-gerakkan. Agar hal ini dapat berhasil dengan baik di informasikan kepada siswa tentang tujuan membaca itu, misalnya:
Dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pikiran pokok dan sebagainya.
Apabila langkah-langkah itu telah dilakukan oleh guru, besar kemungkinan keterampilan siswa dalam membaca akan meningkat. Maka perlu sekali calon guru memahami langkah-langkah seperti yang disebutkan di atas.
Berbagai cara dapat dilakukan oleh guru dalam meningkatkan keterampilan membaca. Beberapa contoh langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melatih siswa untuk meningkatkan kemampuan-kemapuan membaca:
1)      Melatih kemampuan membaca ide pokok sebuah wacana, langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Setiap paragraf, kelompok menentukan ide pokok.
b)      Setelah itu didiskusikan untuk menetapkan judul yang tepat.
c)      Setiap pasangan memusatkan perhatian pada kalimat topik serta paragraf wacana tersebut.
d)     Setiap pasangan memperhatikan/membaca rangkuman bab terakhir.
2)      Melatih kemampuan memahami bagian sebuah wacana, langkah-langkahnya sebagai berikut:
a)      Bahan bacaan ditentukan guru.
b)      Setiap kelompok mencatat sebanyak-banyaknya bagian yang terdapat pada bacaan untuk mempermudah digaris bawahi.
c)      Setelah itu pasangan membacakan hasil kerjanya, kemudian dicocokkan dengan yang asli.
d)     Guru dan siswa memeriksa hasil jawaban yang berpedoman pada kunci jawaban.
3)      Melatih kemampuan mengenal kalimat yang tak ada hubungannya dalam wacana. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
a)      Bahan bacaan ditentukan guru.
b)      Setiap pasangan atau kelompok menentukan tempat kalimat yang salah (tidak berhubungan).
c)      Mendiskusikan.
d)     Diperiksa bersama hasil dari tiap-tiap kelompok, dibicarakan kesalahan-kesalahan.
4)      Melatih kemampuan untuk kritis terhadap bacaan, langkah-langkahnya sebagai berikut:
a)      Setiap kelompok membuat pertanyaan-pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai isi bacaan.
b)      Setelah itu antara kelompok tukar pekerjaan dan memberikan penilaian yang sebelumnya telah diarahkan oleh guru.
DP. Tampubolon mengatakan bahwa “Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi16. Kemampuan membaca ditentukan oleh faktor-faktor pokok yang berikut:
1)      Kompetensi Kebahasaan
Penguasaan bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia) secara keseluruhan, terutama tata bahasa dan kosa kata, termasuk berbagai arti dan nuansa serta ejaan dan tanda-tanda baca, dan pengelompokan kata.
2)      Kemampuan Mata
Keterampilan mata mengadakan gerakan-gerakan membaca yang efisien.
3)      Penentuan Informasi Fokus
Yaitu menentukan lebih dahulu informasi yang diperlukan sebelum mulai membaca pada umumnya dapat meningkatkan efisiensi membaca.
4)      Teknik-teknik dan Metode-metode Membaca
Yakni cara-cara membaca yang paling efisien dan efektif untuk menemukan informasi fokus yang diperlukan. Teknik-teknik yang umum ialah baca pilih, baca lompat, baca-layap, dan baca-tatap.
5)      Fleksibilitas Membaca
Yaitu kemampuan menyesuaikan strategi membaca dengan kondisi baca. Yang dimaksud dengan strategi membaca ialah teknik dan metode membaca, kecepatan membaca, dan gaya membaca (santai, serius, dengan konsentrasi, dan lain-lain). Kondisi baca ialah tujuan membaca informasi fokus, dan materi bacaan dalam arti keterbacaan.
6)      Kebiasaan Membaca
Yaitu minat (keinginan, kemauan, dan motivasi) dan keterampilan membaca yang baik dan efisien, yang telah berkembang dan membudaya secara maksimal dalam diri seseorang17. Faktor kebiasaan membaca akan penulis kemukakan lebih lanjut lagi.
3.      Kebiasaan Membaca
a.       Pengertian Kebiasaan Membaca
Apabila suatu kegiatan atau sikap, baik yang bersifat fisik maupun mental, telah mendarah daging pada diri seseorang, maka dikatakan bahwa kegiatan atau sikap itu telah menjadi kebiasaan. Terbentuknya suatu kebiasaan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi pembentukan itu adalah proses perkembangan yang memakan waktu relatif lama.
Menurut DP. Tampubolon, kebiasaan membaca adalah kegiatan membaca yang telah mendarah daging pada diri seseorang (dari segi kemasyarakatan, kebiasaan adalah kegiatan membaca yang telah membudaya dalam suatu masyarakat)18.
Sedangkan Dewa Ketut Sukardi berpendapat bahwa “apabila membaca buku itu diwajibkan untuk mengulang berkali-kali maka akan terbentuklah kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca akhirnya akan menimbulkan kegemaran membaca”19.

b.      Kebiasaan Sejak Kecil
Pada waktu anak belajar membaca, ia belajar mengenal kata demi kata, mengejanya, dan membedakannya dengan kata-kata lain. Anak harus membaca dengan bersuara, mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. Selagi belajar anak diajari membaca secara struktural, yaitu dari kiri ke kanan dan mengamati tiap kata dengan seksama pada susunan yang ada. Oleh karena itu, pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut:
1)      Menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca.
2)      Menggerakkan kepala dari kiri ke kanan.
3)      Menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata20.
Secara tidak disadari, cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa.

c.       Membentuk Kebiasaan membaca Efisien
Membentuk kebiasaan membaca yang efisien memakan waktu yang relatif lama. Selain waktu, faktor keinginan dan kemauan serta motivasi perlu ada. Tetapi keinginan dan kemauan harus diperkuat oleh motivasi. Selain itu faktor lingkungan juga berperan. Jika lingkungan tidak mendorong, dan bahkan menghambat, maka kebiasaan sukar, atau bahkan tidak akan terbentuk.
Oleh karena itu, usaha-usaha pembentukan hendaklah dimulai sedini mungkin dalam kehidupan, yaitu sejak masa anak-anak. Pada masa anak-anak, usaha pembentukan dalam arti peletakkan pondasi minat yang baik dapat dimulai sejak kira-kira umur dua tahun, yaitu sesudah anak mulai dapat mempergunakan bahasa lisan (memahami yang dikatakan dan berbicara).

d.      Usaha-usaha Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca pada Anak
Banyak usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengembangkan minat dan kebiasaan membaca pada anak. Namun usaha-usaha itu memiliki sasaran yang berbeda. Bagi anak-anak yang belum dapat membaca, bertujuan utama untuk menumbuhkan minat membaca, yang sendirinya juga untuk mencapai kesiapan membaca. Akan tetapi, bagi anak-anak yang sudah dapat membaca, usaha-usaha itu mempunyai tujuan bukan hanya menumbuhkan, melainkan juga mengembangkan minat dan kebiasaan membaca.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1)      Pengaruh dan Peranan Orang tua
Komisi Plowden (1964) mengadakan survei nasional atas Sekolah-sekolah Dasar menyimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi kemajuan anak di sekolah adalah tingkat perhatian orang tua pada anak di rumah.
Begitu pula Komisi Bullock (1975) menyimpulkan penelitiannya bahwa peranan orang tua sangat menentukan dalam pendidikan anak, terutama pada tingkat prasekolah dan SD, khususnya dalam membaca dan perkembangan bahasa. Pengaruh dan peranan orang tua dapat dilakukan dengan:
a)      Mendorong perkembangan bahasa anak.
b)      Menjadi teladan dalam membaca.
c)      Membaca dan bercerita.
d)     Bermain dengan bacaan dan tulisan.
e)      Memanfaatkan sarana-sarana lingkungan21
Mendorong perkembangan bahasa anak dapat dilakukan terutama melalui percakapan-percakapan dengan anak. Cara mendorong perkembangan bahasa anak yaitu melalui peniruan, penyempurnaan, pengomentaran, dan responsi dorongan.
Orang tua harus menjadi teladan bukan hanya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat umumnya, tetapi juga dalam membaca.
Bercerita kepada anak memainkan peranan penting bukan saja dalam menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca, tetapi juga dalam mengembangkan bahasa dan pikiran anak.
Bermain-main dengan bacaan dan tulisan menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca dan menulis dalam diri anak-anak.
Selain dari kegiatan-kegiatan di rumah dengan memanfaatkan sarana-sarana yang ada, orang tua juga perlu memanfaatkan berbagai sarana yang terdapat dalam lingkungan seperti toko buku, perpustakaan, kantor pos, televisi (TV), plaza, dan toko swalayan, dan lain-lain.
2)      Membaca Dini
Membaca dini ialah membaca yang diajarkan secara terprogram (secara formal) kepada anak prasekolah.
DP. Tampubolon mengemukakan ada empat keuntungan mengajar anak membaca dini dilihat dari segi proses belajar mengajar:
a)Belajar membaca dini memenuhi rasa ingin tahu anak.
b)            Situasi akrab dan informal di rumah dan di kelompok bermain (KB) atau taman kanak-kanak (TK) merupakan faktor yang kondusif bagi anak untuk belajar.
c)Anak-anak yang berusia dini pada umumnya perasa dan mudah terkesan, serta dapat diatur.
d)           Anak-anak yang berusia dini dapat mempelajari sesuatu dengan mudah dan cepat22.
Bertitik tolak dari pengertian bahwa membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, dan membaca dini merupakan usaha mempersiapkan anak memasuki pendidikan dasar, DP. Tampubolon menyebutkan lima prinsip pokok membaca dini, yaitu:
(a)          Materi bacaan harus terdiri dari kata-kata, frase-frase, dan kalimat-kalimat. Ini berarti bahwa bacaan itu harus mempunyai makna yang dapat dipahami oleh anak.
(b)         Membaca terutama didasarkan pada kemampuan memahami bahasa lisan, dan bukan pada kemampuan berbicara.
(c)          Mengajarkan membaca bukan mengajarkan aspek-aspek kebahasaan seperti tata bahasa, kosa kata, dan lain-lain, dan bukan mengajarkan logika atau cara berpikir (walaupun membaca tidak terlepas dari proses berpikir). Bahan-bahan pelajaran membaca dini haruslah yang berada dalam ruang lingkup kemampuan bahasa dan berpikir anak.
(d)         Membaca tidak harus bergantung pada pengajaran menulis. Ini berarti bahwa anak dapat diajar membaca, walaupun dia belum dapat menulis.
(e)          Pengajaran membaca harus menyenangkan bagi anak.
Dari penjelasan di atas kiranya dapat dilihat bahwa pengajaran membaca adalah bersifat individual. Program dan metode harus disesuaikan dengan perkembangan setiap anak. Dengan demikian, pada dasarnya orang tua atau guru KB atau TK dapat juga menyusun dan mengembangkan program (bahan-bahan pelajaran) nya sendiri dan juga metode mengajar sesuai dengan perkembangan anak atau anak-anak yang bersangkutan.

B.           Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori di atas dapat dirumuskan kerangka berpikir sebagai berikut:
Kebiasaan membaca adalah sebuah aktivitas membaca yang dilakukan secara rutin oleh seseorang dan akan membentuk sebuah budaya baca.
Membaca pemahaman adalah membaca yang bertujuan untuk dapat memahami bahan bacaan dengan menangkap pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan oleh pengarang melalui bahan bacaan tersebut.
Kemampuan membaca adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami isi suatu bacaan.

C.          Pengajuan Hipotesis
1.      Hipotesis verbal
Hipotesis verbal dalam penelitian ini adalah:
Ho    = Tidak ada korelasi positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes.
H1    = Ada korelasi positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes.
2.      Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:
X      = Kebiasaan membaca siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes
Y      =  Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas XI Taman Islam Cibungbulang Bogor
XY   =  Hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI Taman Islam Cibungbulang Bogor.
H0    =  XY = 0
H1    =  XY ≠ 0
H0    =  Tidak ada korelasi positif yang signifikan antara variabel XI dan variabel Y.
H1    =  Ada korelasi positif yang signifikan antara variabel XI dan variabel Y.
BAB III
METODOLODI PENELITIAN

A.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah korelasi antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes.

2.      Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus yang diinginkan oleh penulis adalah sebagai berikut:
a.       Untuk memperoleh data tentang kebiasaan membaca siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes.
b.      Untuk memperoleh data tentang kemampuan membaca pemahaman siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes.

B.     Metode Penelitian
Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode Analisis Korelasional. Metode ini digunakan untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan masalah yang diteliti pada siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes.


C.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian[1]. Populasi siswa kelas XI SMK Malnu Kananga Menes tahun ajaran 2006-2007 terdiri dari empat kelas, yaitu kelas XI IPA1, XI IPA2, XI IPS1, dan XI IPS 2. dengan jumlah siswa 166 orang. Namun peneliti tidak akan mengambil jumlah populasi secara keseluruhan, melainkan hanya mengambil sampel saja, agar subjek yang diteliti tidak terlalu banyak.

2.      Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti[2]. Adapun sampel yang akan diteliti sejumlah 50 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling (acak). Random ini dilakukan dengan cara pengundian.

D.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan (Januari – Maret 2007) di SMA Taman Islam yang terletak di Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor.

E.     Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini ada dua variabel yang penulis gunakan, yaitu :


a.       Variabel Bebas
Sebagai variabel bebasnya adalah kebiasaan membaca yang dilambangkan dengan huruf X.

b.      Variabel Terikat
Sebagai variabel terikatnya adalah kemampuan membaca pemahaman yang dilambangkan dengan huruf Y.

F.     Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah tes, dan non tes. Tes dilakukan dengan memberikan soal-soal isian yang berjumlah 10. Sedangkan untuk instrumen non tes dengan memberikan angket/kuesioner tentang data kebiasaan membaca siswa. Angket/Kuesioner yang diberikan berbentuk pilihan ganda, sebuah daftar pertanyaan di mana responden tinggal memilih salah satu jawaban yang sesuai dengan kebiasaan membacanya masing-masing dengan memberi tanda silang (X) pada jawaban yang dipilih (tes dan angket terlampir).

G.    Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, penulis mengumpulkan data dari dua sumber yakni data nilai angket kebiasaan membaca dari hasil pengisian angket, dan nilai kemampuan membaca pemahaman dari hasil tes kemampuan membaca pemahaman.
Penulis terlebih dahulu membagikan angket/kuesioner tentang kebiasaan membaca yang berjumlah 10 pertanyaan kebiasaan membaca yang berbentuk pilihan ganda dengan pilihan A, B, C, D, atau E. Instrumen angket kebiasaan membaca digunakan nilai/skor antara 2 sampai dengan 10. Skor 2 untuk jawaban E, skor 4 untuk jawaban D, skor 6 untuk jawaban C, skor 8 untuk jawaban B, dan skor 10 untuk jawaban A. Jadi masing-masing pilihan jawaban itu dimaksudkan untuk melambangkan perbedaan kadar atau kualitas kebiasaan membaca yang dimiliki siswa secara tafsiran kuantitatif.
Kemudian melakukan tes kemampuan membaca pemahaman siswa dengan memberikan soal isian singkat dengan jumlah soal sepuluh. Dengan kriteria penilaian setiap jawaban yang benar diberi nilai/skor sepuluh.

H.    Teknik Analisis Data
Prosedur yang dilaksanakan dalam menganalisis data sebagai berikut :
a.       Pemeriksaan dan pemberian nilai pada setiap angket dan hasil tes.
b.      Untuk angket/kuesioner kebiasaan membaca diberi nilai antara 2 sampai dengan 10.
c.       Hasil tes kemampuan membaca pemahaman, setiap jawaban yang benar diberi nilai sepuluh, jawaban yang mendekati benar diberi dinai 5, dan yang salah diberi nilai nol
d.      Menghitung hasil nilai angket/kuesioner kebiasaan membaca siswa yang dijadikan sampel dengan simbol X, X2, dan XY
e.       Menghitung hasil nilai kemampuan membaca pemahaman siswa dengan menggunakan simbol Y, Y2, dan XY
f.       Menjumlahkan hasil perkalian antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita
g.      Menghubungkan kedua nilai tersebut dengan menggunakan rumus korelasi product moment, untuk mengetahui ada atau tidak adanya hubungan pada kedua variabel tersebut.


Adapun rumus korelasi product moment yang digunakan penulis adalah sebagai berikut :



Keterangan :
rxy        = Korelasi antara variabel X dan Y
X         = Hasil kebiasaan membaca siswa kelas X SMA Taman Islam
  Cibungbulang Bogor
Y         = Hasil kemampuan membaca pemahaman siswa kelas X SMK Malnu Kananga Menes
XY      = Hasil kali dua variabel antara X dan Y
N         = Jumlah sampel penelitian




Tabel Product Moment
No
Nama Siswa
NILAI
X2
Y2
XY
Kebiasaan Membaca
(X)
Kemampuan membaca pemahaman
(Y)











Jumlah





BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A.    Pengumpulan Data
Berikut ini adalah data yang dikumpulkan penulis dari dua sumber, yakni data nilai angket kebiasaan membaca dan nilai tes kemampuan membaca pemahaman.

TABEL 1
JAWABAN ANGKET KEBIASAAN MEMBACA
NO
NAMA SISWA
NOMOR SOAL
JUMLAH SKOR
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
AD
FH
MA
ES
RD
HF
HM
SM
YS
HB
KF
EF
RM
RI
AY
AB
JJ
IS
HD
SA
MI
WY
RS
GP
AM
JH
WZ
RN
AW
SN
EA
SM
AI
TE
LP
NC
KO
NH
RY
EF
DT
IN
AS
FA
LK
SN
SE
KN
MM
ME
4
4
5
4
4
5
4
5
4
4
4
4
4
5
4
4
4
5
5
5
4
5
5
5
4
4
3
5
4
5
4
3
5
5
5
5
4
5
5
5
5
5
4
3
5
5
4
4
4
4
4
5
5
5
3
3
5
5
3
5
1
3
2
4
4
5
5
5
5
5
3
4
5
5
3
5
3
4
5
4
5
3
5
5
5
5
5
5
2
2
4
5
5
5
1
5
5
3
5
5
3
3
5
4
3
5
3
4
3
4
4
3
4
4
3
4
3
3
5
4
4
5
5
4
3
3
3
3
5
4
4
3
3
3
3
4
3
4
5
3
3
4
3
4
2
3
2
3
2
3
4
5
2
5
4
5
4
1
3
3
2
4
5
4
4
4
1
1
5
5
5
5
5
4
1
5
2
3
4
1
5
1
1
1
5
5
1
5
5
2
5
5
3
5
1
5
5
5
2
3
4
5
4
5
4
4
4
5
5
5
4
3
5
4
4
5
3
1
4
4
4
4
5
4
4
5
4
4
4
5
4
4
5
4
4
3
4
4
5
4
4
4
5
5
3
4
4
4
5
5
3
4
4
5
4
3
3
4
4
4
4
3
5
4
3
4
3
4
3
3
4
3
3
3
3
4
3
3
5
4
3
3
3
3
3
5
3
3
4
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
4
3
1
1
3
3
5
3
2
3
3
3
2
2
2
2
2
3
2
3
3
1
3
2
2
4
4
2
2
3
2
4
2
4
2
3
2
3
5
2
2
3
3
2
3
3
4
2
5
4
4
4
1
2
5
4
5
2
2
4
4
2
4
2
4
1
2
5
1
4
3
2
4
2
3
3
3
3
3
2
3
3
4
2
2
2
2
3
4
5
3
3
2
3
2
4
3
4
3
4
5
3
3
4
3
5
3
4
4
5
5
4
3
4
3
3
3
3
3
4
3
5
3
5
4
4
4
4
3
4
3
3
4
3
4
3
3
3
3
4
4
4
3
2
3
4
4
5
5
5
3
5
3
2
3
5
5
5
4
5
5
4
5
4
3
5
5
3
5
3
5
5
3
5
4
5
5
3
3
3
3
3
5
3
5
5
5
4
5
4
5
3
3
4
5
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
3
5
3
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
2
5
5
5
5
5
5
4
5
5
5
4
5
5
5
1
5
5
4
5
5
5
5
5
5
5
4
5
4
5
5
5
5
5
4
5
5
4
3
5
4
5
5
5
5
5
4
4
5
5
4
5
4
5
4
4
5
4
1
1
5
3
1
5
5
1
3
2
2
4
3
4
2
4
2
3
4
3
4
5
1
3
1
2
4
5
2
2
2
5
3
5
4
5
3
3
3
3
3
3
3
5
4
3
3
5
1
5
1
2
5
4
5
4
4
1
5
2
3
4
3
5
2
3
5
3
4
1
2
5
5
3
3
2
5
5
2
2
5
4
3
3
4
5
3
3
3
3
3
4
5
3
4
3
3
5
4
4

1
5
3
5
4
5
1
3
2
2
3
3
4
2
1
2
3
3
4
3
4
1
2
3
2
4
5
2
2
3
4
3
3
2
3
3
4
1
3
4
4
4
5
3
3
3
4
1
4
2
1
5
1
5
4
4
1
3
2
3
4
4
3
5
4
2
3
2
4
3
1
1
2
5
3
4
4
5
3
4
5
2
4
3
5
4
2
5
2
4
4
5
4
2
4
3
3
5
4
4
2
4
4
3
5
5
3
5
4
3
5
4
3
4
4
2
3
3
3
5
5
5
3
4
5
4
5
5
3
5
4
4
5
5
5
3
1
5
3
3
5
4
5
2
4
4
5
5
3
3
4
3
4
4
3
4
3
4
4
3
3
5
4
3
3
5
4
4
4
3
4
4
3
4
3
3
5
3
5
5
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
5
3
3
3
4
3
4
3
4
4
2
4
4
2
4
4
4
3
4
4
3
4
3
3
3
4
3
4
3
4
4
4
3
4
3
3
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
3
4
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
5
5
3
3
3
2
3
4
4
4
3
4
4
4
3
4
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
4
3
75
70
73
87
69
72
74
82
60
83
67
59
82
81
75
74
69
69
73
74
73
71
81
74
64
75
65
64
90
76
69
68
75
65
77
75
74
74
71
65
70
79
76
75
67
69
70
69
81
74


J   U   M   L   A   H
3.664



TABEL 2
HASIL TES KEMAMPAN MEMBACA PEMAHAMAN
NO
NAMA SISWA
NILAI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
AD
FH
MA
ES
RD
HF
HM
SM
YS
HB
KF
EF
RM
RI
AY
AB
JJ
IS
HD
SA
MI
WY
RS
GP
AM
JH
WZ
RN
AW
SN
EA
SM
AI
TE
LP
NC
KO
NH
RY
EF
DT
IN
AS
FA
LK
SN
SE
KN
MM
ME
70
75
75
85
65
70
80
80
75
80
70
70
70
80
75
70
75
75
70
75
80
70
70
70
70
75
65
80
80
75
70
70
70
70
70
80
80
75
80
70
65
80
70
80
65
60
80
70
70
80

J   U   M   L   A   H
3.670

B.     Deskripsi Data
Setelah Penulis memperoleh data sampel penelitian dalam hal kebiasaan membaca dan membaca pemahaman siswa kelas X SMA Taman Islam, Penulis dapat mengetahui rata-rata tingkat kebiasaan membaca siswa tergolong tinggi, dengan rata-rata skor 72,88. Begitu pula dengan data kemampuan membaca pemahaman siswa tergolong tinggi dengan rata-rata skor 73,4.

C.    Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian Penulis olah dengan menggunakan rumus korelasi product moment, yakni :
rxy
Untuk memudahkan Penulis di dalam mengolah data tersebut dan untuk mengetahui korelasi antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita, maka Penulis membuat blanko penilaian sebagai berikut :
TABEL 3
KORELASI KEBIASAAN MEMBACA DENGAN KEMAMPUAN
MEMBACA PEMAHAMAN
No
Nama Siswa
Nilai
X2
Y2
XY
Kebiasaan Membaca
(X)
Kemampuan Membaca
Pemahaman
(Y)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
AD
FH
MA
ES
RD
HF
HM
SM
YS
HB
KF
EF
RM
RI
AY
AB
JJ
IS
HD
SA
MI
WY
RS
GP
AM
JH
WZ
RN
AW
SN
EA
SM
AI
TE
LP
NC
KO
NH
RY
EF
DT
IN
AS
FA
LK
SN
SE
KN
MM
ME
75
70
73
87
69
72
74
82
60
83
67
59
82
81
75
74
69
69
73
74
73
71
81
74
64
75
65
64
90
76
69
68
75
65
77
75
74
74
71
65
70
79
76
75
67
69
70
69
81
74
70
75
75
85
65
70
80
80
75
80
70
70
70
80
75
70
75
75
70
75
80
70
70
70
70
75
65
80
80
75
70
70
70
70
70
80
80
75
80
70
65
80
70
80
65
60
80
70
70
80
5.625
4.900
5.329
7.569
4.761
5.187
5.476
6.724
3.600
6.889
4.489
3.481
6.724
6.561
5.625
5.476
4.761
4.761
5.329
5.476
5.329
5.041
6.561
5.476
4.096
5.625
4.225
4.096
8.100
5.776
4.761
4.624
5.625
4.225
5.929
5.625
5.476
5.476
5.041
4.225
4.900
6.241
5.776
5.625
4.489
4.761
4.900
4.761
6.561
5.476
4.900
5.625
5.625
7.225
4.225
4.900
6.400
6.400
5.625
6.400
4.900
4.900
4.900
6.400
5.625
4.900
5.625
5.625
4.900
5.625
6.400
4.900
4.900
4.900
4.900
5.625
4.225
6.400
6.400
5.625
4.900
4.900
4.900
4.900
4.900
6.400
6.400
5.625
6.400
4.900
4.225
6.400
4.900
6.400
4.225
3.600
6.400
4.900
4.900
6.400
5.250
5.250
5.475
7.395
4.485
5.040
5.920
6.560
4.500
6.640
4.690
4.130
5.740
6.480
5.625
5.250
5.175
5.175
5.110
5.550
5.840
4.970
5.670
5.180
4.480
5.625
4.225
5.120
7.300
5.700
4.830
4.760
5.250
4.550
5.390
6.000
5.920
5.550
5.680
4.550
4.550
6.320
5.320
6.000
4.335
4.140
5.600
4.830
5.670
5.920


3.644
3.670
267.562
271.575
268.735

Diketahui :
N         =        50
∑X      =     3.644
∑Y      =     3.670
∑X2     =   267.562
∑Y2     =   271.575
XY      =   268.735
(X)2     = 13.278.736
(Y)2     = 13.468.900

rxy        =
rxy        =
rxy        =
            =
            =
            =
rxy        = 0,605           (r hitung)
dari hasil penelitian statistik di atas, diketahui bahwa nilai r hitung adalah 0,605, sedangkan r tabel adalah 0,288 dengan batas signifikasi 5%. Artinya bahwa nilai r hitung lebih besar daripada nilai r tabel, yakni 0,605 > 0,288.
Dengan demikian dapat disimpulkan berdasarkan hipotesis yang diajukan bahwa H0 ditolak pada taraf signifikasi 5%. Sedangkan hipotesis alternatif (H1) diterima, yang berarti terdapat korelasi yang positif antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita.
Untuk menyatakan dan menentukan bobot tingkat korelasi antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita Penulis menggunakan kriteria rentang nilai korelasi koefisien yang Penulis kutip dari buku acuan Suharsimi Arikunto. Adapun kriterianya sebagai berikut :
Antara                         0,800   sampai dengan 1,000 Tinggi
Antara                         0,600   sampai dengan 0,800 Cukup
Antara                         0,400   sampai dengan 0,600 Agak rendah
Antara                         0,200   sampai dengan 0,400 Rendah
Antara                         0,000   sampai dengan 0,200 Sangat rendah (tidak ada korelasi)
Berdasarkan kriteria tingkat korelasi di atas, di mana nilai r hitung adalah 0,605 berarti berada pada rentang nilai di antara 0,600 sampai dengan 0,800, maka dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas X SMA Taman Islam mempunyai tingkat korelasi cukup.


D.    Interpretasi Data
Dari hasil pengumpulan dan pengelolaan data, dapat diberikan interpretasi terhadap kebiasaan membaca dan kemampuan membaca pemahaman. Untuk memberikan interpretasi terhadap data, penulis menggunakan acuan nilai sebagai berikut:
Untuk nilai            0          sampai dengan            40        rendah
Untuk nilai            40        sampai dengan            60        sedang
Untuk nilai            60        sampai dengan            100      tinggi
Untuk kebiasaan membaca, pada umumnya siswa memiliki tingkat kebiasaan membaca tinggi. Hal ini terbukti dari 50 siswa hanya terdapat dua orang yang memiliki kebiasaan membaca tingkat sedang dan 48 orang memiliki tingkat kebiasaan yang tinggi. Artinya hanya 4% yang memiliki kebiasaan membaca tingkat sedang dan 96% memiliki kebiasaan membaca tingkat tinggi.
Demikian pula kemampuan membaca pemahaman, hampir semua siswa memiliki kemampuan membaca pemahaman tingkat tinggi. Ini terbukti dari 50 siswa hanya terdapat 1 orang yang memiliki kemampuan membaca pemahaman tingkat sedang, dan 49 siswa memiliki kemampuan membaca pemahaman tingkat tinggi. Artinya hanya 20% yang memiliki kemampuan membaca tingkat sedang dan 98% memiliki kemampuan membaca pemahaman tingkat tinggi.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang Penulis lakukan terhadap kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita siswa kelas X SMA Taman Islam, Penulis akan memberikan kesimpulan sebagai berikut :
1.      Berdasarkan hasil penelitian, diketahui nilai r hitung adalah 0,605 sedangkan r tabel adalah 0,288 pada taraf signifikasi 5%. Dengan demikian hipotesis nol (H0) dinyatakan ditolak, sedangkan hipotesis penelitian (H1) dinyatakan diterima, artinya bahwa terdapat korelasi yang positif antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca.
2.      Kebiasaan membaca siswa kelas X SMA Taman Islam memiliki rata-rata yang cukup tinggi.
3.      Kemampuan membaca pemahamannya juga dapat dikatakan mencapai pada taraf rata-rata yang cukup tinggi.

B.     Saran
Berdasarkan hasil penelitian, baik berdasarkan perolehan data maupun yang penulis peroleh, maka dapat dikemukakan beberapa saran yang mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri. Sebagai akhir dari penulisan, Penulis menyampaikan saran sebagai berikut :
1.      Hendaknya siswa memiliki kebiasaan membaca yang tinggi. Agar kemampuan membaca pemahaman dapat dicapai.
2.      Hendaknya guru dapat meningkatkan kebiasaan membaca siswa dengan menambah jam wajib kunjung ke perpustakaan.
3.      Hendaknya pihak sekolah mendukung usaha tersebut dengan memperhatikan fasilitas yang dapat menunjang, seperti menambah jumlah koleksi buku di perpustakaan. Hal ini penting dilakukan agar dapat memicu semangat dan motivasi siswa untuk membaca.
4.      Hendaknya orang tua dapat memberikan contoh kepada anak dalam hal kebiasaan membaca agar dapat membentuk budaya baca.
Demikian kesimpulan dan saran yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.




DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ............................................................................................       i
Lembar Persetujuan ............................................................................................       ii
ABSTRAK .........................................................................................................       iii
PRAKATA .........................................................................................................       iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................       v
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah ...................................................................       1
B.     Identifikasi Masalah .........................................................................       5
C.     Pembatasan Masalah .........................................................................       5
D.    Perumusan Masalah ..........................................................................       6
E.     Kegunaan Masalah ............................................................................       6

BAB II KERANGKA TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.    Kajian Teori ......................................................................................       7
1.      Membaca .....................................................................................       7
a.       Pengertian Membaca .............................................................       7
b.      Tujuan Membaca ...................................................................       10
c.       Aspek-aspek Membaca .........................................................       13
d.      Jenis-jenis Membaca .............................................................       14
2.      Membaca Pemahaman ................................................................       17
a.       Pengertian Membaca Pemahaman ........................................       17
b.      Kemampuan Membaca .........................................................       19
c.       Teknik Pengajaran Membaca ................................................       20
d.      Metode Pengajaran Membaca ...............................................       23
e.       Faktor yang menyebabkan anak tidak mampu membaca .....       25
f.       Mengembangkan Keterampilan Membaca ............................       26
3.      Kebiasaan Membaca ...................................................................       30
a.       Pengertian Kebiasaan Membaca ...........................................       30
b.      Kebiasaan Sejak Kecil ..........................................................       31
c.       Membentuk Kebiasaan Membaca Efisien .............................       32
d.      Usaha-usaha Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak                   32
B.     Kerangka Berpikir .............................................................................       36
C.     Pengajuan Hipotesis ..........................................................................       36
1.      Hipotesis Verbal .........................................................................       36
2.      Hipotesis Statistik .......................................................................       37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A.    Tujuan Penelitian ..............................................................................       38
B.     Metode Penelitian .............................................................................       38
C.     Populasi dan Sampel .........................................................................       39
D.    Waktu dan Tempat ...........................................................................       39
E.     Variabel Penelitian ............................................................................       39
F.      Instrumen Penelitian .........................................................................       40
G.    Teknik Pengumpulan Data ................................................................       40
H.    Teknik Analisis Data .........................................................................       41

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
A.    Pengumpulan Data ............................................................................       44
B.     Deskripsi Data ..................................................................................       47
C.     Analisis Data .....................................................................................       47
D.    Interpretasi Data ...............................................................................       51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan .......................................................................................       52
B.     Saran .................................................................................................       52

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................       54

LAMPIRAN
Lampiran 1 Tabel Nilai Product Moment ..................................................       56
Lampiran 2 Angket Kebiasaan Membaca ..................................................       57
Lampiran 3 Soal Tes Kemampuan Membaca Pemahaman ........................       59
Lampiran 4 Hasil Jawaban Siswa dalam Angket Kebiasaan Membaca .....       61
Lampiran 5 Hasil Jawaban Siswa dalam Lembar Jawaban Tes Kemampuan Membaca Pemahaman               71
DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, S.H. 1996. Membaca 2. Jakarta: Cipta Karya.
Arikunto, Surhasimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Burhan, Jazir. 1971. Problema Bahasa dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Ganato NV.

Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Harimurti Kridalaksana. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia.
Heryanto, Yusuf. 2002. Pengantar Linguistik. STKIP Muhammadiyah Bogor.
______ 2003. Fonologi Bahasa Indonesia. STKIP Muhammadiyah Bogor.
______ 2005. Tanya Jawab Bahasa Indonesia. STKIP Muhammadiyah Bogor.
Keraf, Gorys. 1993. Komposisi. Cetakan XI. Nusa Indah. Ende-Flores.
Mulyati, Yet. 1997, Membaca. Jakarta: Cipta Karya.
Nurhadi. 1989. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung: CV. Sinar Baru.

Rita. 1996. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.
Rosidi, Ajib. 1983. Pembinaan Minat Baca Bahasa dan Sastra. Bina Ilmu. Surabaya.

Soedarso. 1989. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: PT. Gramedia.
Sudjana. 1989. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Suhendar, ME. dan Pien Supinah. 1992. Pengajaran dan Ujian Keterampilan Membaca dan Keterampilan Menulis. Bandung: Pionir Jaya.

Sugono, Dendy. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Sukardi, Dewa Ketut. 1987. Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tampulonon, DP. 1987. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa.
______ 1991. Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak.  Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

______ 1983. Membaca Ekspresif. Bandung: Angkasa.
Walija. 1996. Komposisi Mengolah Gagasan Menjadi Karangan. Jakarta: Penebar Aksara.


Lampiran 1

Nukilan Tabel Nilai Koefisien Korelasi “r” Product Moment
dari Pearson untuk Berbagai df.
df.
(degrees of freedom)
atau:
bd.
(derejat bebas)
Banyaknya variabel yang dikorelasikan:
2
Harga “r” pada taraf signifikasi:
5%
1%
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
35
40
45
50
60
70
80
90
100
125
150
200
300
400
500
1000
0,997
0,950
0,878
0,811
0,754
0,707
0,666
0,632
0,602
0,576
0,553
0,532
0,514
0,497
0,482
0,468
0,456
0,444
0,433
0,423
0,413
0,404
0,396
0,388
0,381
0,374
0,367
0,361
0,355
0,349
0,325
0,304
0,288
0,273
0,250
0,232
0,217
0,205
0,195
0,174
0,159
0,138
0,113
0,098
0,038
0,062
1,000
0,990
0,959
0,917
0,874
0,834
0,798
0,765
0,735
0,708
0,684
0,661
0,641
0,623
0,606
0,590
0,575
0,561
0,549
0,537
0,526
0,515
0,505
0,496
0,487
0,478
0,470
0,463
0,456
0,449
0,413
0,393
0,372
0,354
0,325
0,302
0,283
0,267
0,254
0,228
0,208
0,181
0,148
0,128
0,115
0,081



Lampiran 2

ANGKET KEBIASAAN MEMBACA

Petunjuk:
(a)          Tujuan diadakan angket ini adalah untuk mengetahui tingkat kebiasaan membaca dari setiap responden.
(b)         Angket ini terdiri atas 10 soal. Anda diminta menjawab solah seluruhnya.
(c)          Bacalah setiap butir soal secara cermat, dan jawablah dengan memilih pilihan jawaban yang mencerminkan keadaan diri Anda sendiri berkaitan dengan kegiatan membaca.
(d)         Jawaban ditulis pada lembar jawaban yang telah disediakan, dengan memberi tanda silang (X) pada huruf yang sesuai dengan pilihan Anda.
(e)          Setelah selesai mengerjakan angket ini, serahkanlah lembar jawaban Anda bersama dengan soal angket kepada pengawas.


1.      Bagaimanakah perasaan anda apabila keinginan membaca dapat tersalurkan ?
A.    Sangat senang
B.     Senang
C.     Biasa-biasa saja
D.    Tidak senang
E.     Sangat tidak senang

2.      Tingkat keinginan anda untuk membaca cenderung termasuk pada kategori mana ?
A.    Sangat kuat
B.     Kuat
C.     Biasa saja
D.    Tidak begitu kuat
E.     Tidak ada keinginan sama sekali

3.      Bagian/rubrik surat kabar yang paling disenangi adalah…………..
A.    Sastra Budaya (Cerpen, Puisi, Cerita Bersambung)
B.     Profil tokoh
C.     Opini: Artikel-artikel, karangan lepas
D.    Konsultasi, tanya jawab
E.     Iklan
4.      Bagaimanakah perasaan anda bilaman majalah sastra (seperti majalah Horison) itu beredar sangat luas di masyarakat dan mudah dijangkau ?
A.    Sangat senang
B.     Senang
C.     Biasa saja
D.    Tidak senang
E.     Tidak setuju dan tidak senang
5.      Berapa rata-rata jumlah bacaan yang anda baca perminggu ?
A.    Lebih dari 5 judul
B.     Antara 4-5 judul
C.     Antara 2-3 judul
D.    Kira-kira 1 judul
E.     Satu judulpun tak ada

6.      Rata-rata tingkat frekuensi anda mengunjungi perpustakaan ?
A.    Sering kali/setiap kali
B.     Setiap minggu sekali
C.     Setiap dua minggu sekali
D.    Sebulan sekali
E.     Tidak pernah

7.      Bagaimanakah anda dengan kesempatan untuk membaca di rumah ?
A.    Sangat tersedia cukup kesempatan
B.     Tersedia cukup
C.     Kadangkala cukup kadangkala tidak
D.    Tidak cukup tersedia
E.     Sangat tidak cukup tersedia kesempatan

8.      Bagi anda, munculnya dorongan untuk membaca terutama adalah ……………
A.    Demi rasa ingin tahu dan ingin terhibur
B.     Demi iseng-iseng, mungkin ada manfaat
C.     Demi mengisi waktu luang
D.    Demi gengsi agar tampak tak ketinggalan
E.     Demi tugas dari Guru

9.      Anda terdorong untuk membaca. Kerana jenis alasan …………….
A.    Demi meningkatkan pengembangan diri
B.     Demi kebutuhan harga diri
C.     Demi terpengaruh teman lain
D.    Demi penyelesaian tugas agar nilainya aman
E.     Demi mendapat imbalan jasa

10.  Menurut anda, kegiatan membaca buku itu …………..
A.    Sangat penting dan sangat perlu
B.     Penting dan perlu
C.     Biasa saja
D.    Tidak penting dan tidak perlu
E.     Tidak begitu penting dan tidak begitu perlu



Lampiran 3


SOAL TES KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN

Soal untuk no. 1 dan 2

Gadis peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyumu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap
Gembira dari kemayaan riang

Dunia mu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas diatas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

1.  Apa tema puisi diatas ?
2.  Bagaimana latar suasana dari puisi diatas ?
  1. Inilah cerita seorang manusia
Yang selalu menanggung derita
Tiada sesaatpun bahagia
Seolah hidup ini hanyalah sengsara
Tetapi janganlah berputus asa
Karena Tuhan mendengar do’a kita
Nasib buruk ada akhirnya
Bila diikuti usaha yang nyata

Jelaskan amanat penggalan puisi di atas !

  1. Malam itu kira-kira pukul 22.30 mataku tak terpejam sedikitpun semenjak aku masuk ke kamar. Suasana yang sunyi membuatku berpikir hal-hal yang buruk. Angin yang bertiup kencang membentur-benturkan bibir jendela yang sengaja sedikit terbuka. Kurapatkan selimutku, ku coba pejamkan mataku, dan berharap paman serta bibi segera pulang. Saat itu kudengar suara derit pintu kamarku terbuka, aku segera berdiri sekejap dalam keterkejutanku.

Bagaimana karakter aku tersebut !



Soal untuk no. 5-8
Pancaran Hidup

Dipagi hari
Aku berangkat kerja
Tampak olehku seorang lelaki
Mengorek-ngorek tong mencari nasi
Sepintas hatiku sedih
Terasa miskin diri sendiri
Ditengah kekayaan negeri ini
Awak menjadi peminta-minta
Lalu mataku menoleh ke badannya
Tampak tegap teguk semata
Tiada cacat membuat cela
Hatiku marah
Orang begini tak pantas dikasihani
Di dunia Allah penuh rezeki
Ia tinggal bermalas diri

5.      Siapa yang dimaksud lelaki dalam puisi tersebut ?
6.      Apa temanya ?
7.      Menggunakan sudut pandang apa puisi tersebut ?
8.      Nilai/ajaran apa yang terkandung didalamnya ?
9.      Tingginya arus truk dalam dua hari terakhir ini berkaitan dengan adanya larangan melintas bagi truk non sembako pada tanggal 21-25 November, larangan itu berlaku bagi truk gandengan, truk bersumbu lebih dari dua dan truk container.

Apa topik masalah yang dibicarakan dalam cuplikan berita tersebut ?

10.  Setiap pagi dia duduk dikursi rodanya menghadap ke sebuah meja. Di atas meja ada mesin tik. Dia selalu berkarya dan berkarya. Dia tidak pernah berhenti atau putus asa meskipun karya-karyanya sering dikembalikan oleh media massa. Dia mempunyai semangat besar walaupun kedua kakinya patah karena kecelakaan sepeda dua tahun lalu.
Jelaskan bagaimana watak/karakter “Dia” dalam penggalan cerita di atas !

LEMBAR JAWABAN ANGKET KEBIASAAN MEMBACA



Nama   : ……………………………
Kelas   : ……………………………



1.      A    B         C       D        E
2.      A    B         C       D        E
3.      A    B         C       D        E
4.      A    B         C       D        E
5.      A    B         C       D        E
6.      A    B         C       D        E
7.      A    B         C       D        E
8.      A    B         C       D        E
9.      A    B         C       D        E
10.  A    B         C       D        E



           
  Skor :



LEMBAR JAWABAN ANGKET KEBIASAAN MEMBACA



Nama   : ……………………………
Kelas   : ……………………………



  1. A    B  C          D        E
  2. A    B  C          D        E
  3. A    B  C          D        E
  4. A    B  C          D        E
  5. A    B  C          D        E
  6. A    B  C          D        E
  7. A    B  C          D        E
  8. A    B  C          D        E
  9. A    B  C          D        E
  10. A    B  C          D        E



           
  Skor :

Lembar Jawaban Tes Kemampuan Membaca Pemahaman


Nama   :
Kelas   :

  1. ……………………………………………………………………
  2. ……………………………………………………………………
  3. ……………………………………………………………………
  4. ……………………………………………………………………
  5. ……………………………………………………………………
  6. ……………………………………………………………………
  7. ……………………………………………………………………
  8. ……………………………………………………………………
  9. ……………………………………………………………………
  10. ……………………………………………………………………


Lembar Jawaban Tes Kemampuan Membaca Pemahaman


Nama   :
Kelas   :

1.      ……………………………………………………………………
2.      ……………………………………………………………………
3.      ……………………………………………………………………
4.      ……………………………………………………………………
5.      ……………………………………………………………………
6.      ……………………………………………………………………
7.      ……………………………………………………………………
8.      ……………………………………………………………………
9.      ……………………………………………………………………
10.  ……………………………………………………………………




LEMBAR JAWABAN ANGKET KEBIASAAN MEMBACA



Nama   : ……………………………
Kelas   : ……………………………



  1. A    B  C          D        E
  2. A    B  C          D        E
  3. A    B  C          D        E
  4. A    B  C          D        E
  5. A    B  C          D        E
  6. A    B  C          D        E
  7. A    B  C          D        E
  8. A    B  C          D        E
  9. A    B  C          D        E
  10. A    B  C          D        E




           
  Skor :



LEMBAR JAWABAN ANGKET KEBIASAAN MEMBACA


Nama   :……………………………
Kelas   :……………………………



  1. A    B  C          D        E
  2. A    B  C          D        E
  3. A    B  C          D        E
  4. A    B  C          D        E
  5. A    B  C          D        E
  6. A    B  C          D        E
  7. A    B  C          D        E
  8. A    B  C          D        E
  9. A    B  C          D        E
  10. A    B  C          D        E



  Skor :




[1] Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial (Bandung: Mandar Maju, 1990), 157.
[1] Suharsimi Arikunto, Op. Cit., 133
[1] S. Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah (Bandung: Jemmars, 1991), 146.
[1] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2005),102.
[1] Ibid, 135.
[1] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakhtek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 9.
[1] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian , ………. 10
[1] M. Subana dkk, 2000, Statistika Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung, hal:38
   1 Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa 1979) hlm. 10
   2 Ibid., hlm. 7
   3 Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: Gramedia 1984) hlm. 122
   4 Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 4
   5 DP. Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien (Bandung: Angkasa 1986) hlm. 228
   6 Henry Guntur Tarigan, Loc. Cit
   7 Nurhadi, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca (Bandung: CV. Sinar Baru 1989) hlm. 14

   8 Henry Guntur Tarigan, Op. Cit hlm. 11-12
   9 Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 84
   10 Ibid., hlm. XIV-XV
   11 M.E. Suhendar dan Pien Supinah, Pengajaran dan Ujian Keterampilan Membaca dan Keterampilan Menulis (Bandung: CV. Pionir Jaya 1992) hlm. 27
 
   12 Henry Guntur Tarigan, Op. Cit., hlm. 56
   13 DP. Tampubolon, Op. Cit., hlm. 7
   14 Akhmad, Membaca 2 (Jakarta: Cipta Karya 1996) hlm. 88
   15 Yeti Mulyati, Membaca (Jakarta: Cipta Karya 1997) hlm. 65
   16 DP. Tampubolon, Loc. Cit., hlm. 242
   17 Henry Guntur Tarigan, Op. Cit., hlm. 244
   18 DP. Tampubolon, Op. Cit., hlm. 229
   19 Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak (Jakarta: Ghalia Indonesia 1987) hlm. 105
   20 Soedarso, Loc. Cit
   21 DP. Tampubolon, Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak (Bandung: Angkasa 1991) hlm. 45-61
   22 DP. Tampubolon, Ibid., hlm. 63
   [1] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta 1997) hlm. 115

   [1] Ibid., hlm. 117



   1 Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa 1979) hlm. 10
   2 Ibid., hlm. 7
   3 Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: Gramedia 1984) hlm. 122
   4 Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 4
   5 DP. Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien (Bandung: Angkasa 1986) hlm. 228
   6 Henry Guntur Tarigan, Loc. Cit
   7 Nurhadi, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca (Bandung: CV. Sinar Baru 1989) hlm. 14

   8 Henry Guntur Tarigan, Op. Cit hlm. 11-12
   9 Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 84
   10 Ibid., hlm. XIV-XV
   11 M.E. Suhendar dan Pien Supinah, Pengajaran dan Ujian Keterampilan Membaca dan Keterampilan Menulis (Bandung: CV. Pionir Jaya 1992) hlm. 27
   12 Henry Guntur Tarigan, Op. Cit., hlm. 56
   13 DP. Tampubolon, Op. Cit., hlm. 7
   14 Akhmad, Membaca 2 (Jakarta: Cipta Karya 1996) hlm. 88
   15 Yeti Mulyati, Membaca (Jakarta: Cipta Karya 1997) hlm. 65
   16 DP. Tampubolon, Loc. Cit., hlm. 242
   17 Henry Guntur Tarigan, Op. Cit., hlm. 244
   18 DP. Tampubolon, Op. Cit., hlm. 229
   19 Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak (Jakarta: Ghalia Indonesia 1987) hlm. 105
   20 Soedarso, Loc. Cit
   21 DP. Tampubolon, Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak (Bandung: Angkasa 1991) hlm. 45-61
   22 DP. Tampubolon, Ibid., hlm. 63
   [1] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta 1997) hlm. 115

   [2] Ibid., hlm. 117
Poskan Komentar