Sabtu, 05 Mei 2012

Pengaruh Kreativitas Guru Dalam Penggunaan Media Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Aqidah Akhlak Kelas VIII di MTs Nurul Amal Cimoyan kecamatan Picung kabupaten Pandeglang


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan, yang memegang kunci dalam pembangkitan dan pengembangan daya kreativitas anak itu adalah guru. Seorang guru yang ingin membangkitkan kreativitas pada anak-anak didiknya, harus terlebih dahulu berupaya supaya ia sendiri kreatif. Pada umumnya guru yang kreatif itu pernah dididik oleh orang-orang yang kreatif dalam lingkungan yang mendukungnya. Kreativitas harus mengubah konsep lama, yang mengatakan bahwa pendidikan itu suatu sistem, dimana faktor-faktor yang telah terdahulu terkumpul, dipelihara dan disistimatisasikan.
Oleh karena itu, seorang guru itu perlu mengembangkan kreativitas sebagai upaya pembaharuan proses pembelajaran di madrasah, maka seorang guru dipersyaratkan mempunyai pandangan atau pendapat yang positif terhadap bagaimana menciptakan situasi dan kondisi belajar yang diharapkan. Karena secara operasionalnya gurulah yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di madrasah. Tugas guru memang sangatlah kompleks, sehingga mereka dituntut untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan. Guru harus memiliki kemampuan profesional dalam tugasnya dengan menerapkan konsep teknologi pembelajaran dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan/pembelajaran.[1]
Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah itu berupa komponen sistem instruksional yang telah disusun dalam fungsi desain dan seleksi, dan dalam pemanfaatan dikombinasikan sehingga menjadi sistem instruksional yang lengkap. Komponen-komponen tersebut meliputi: pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar atau lingkungan. Namun dari sejumlah komponen tersebut, yang akan menjadi obyek penelitian adalah sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dan pemanfaatan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran. Karena seorang guru tentunya mempunyai pandangan tersendiri berdasarkan tanggapan, perasaan, penilaian terhadap teknologi pembelajaran, serta pemanfaatan media dalam proses pembelajaran.[2]
Dalam proses pembelajaran, media telah dikenal sebagai alat bantu mengajar yang seharusnya dimanfaatkan oleh pengajar, namun kerap kali terabaikan. Problematika yang dihadapi oleh guru tidak dimanfaatkannya media dalam proses pembelajaran, pada umumnya disebabkan oleh berbagai alasan, seperti waktu persiapan mengajar terbatas, sulit mencari media yang tepat, biaya tidak tersedia, atau alasan lain. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu muncul apabila pengetahuan akan ragam media, karakteristik, serta kemampuan masing-masing diketahui oleh para pengajar. Media sebagai alat bantu mengajar berkembang demikian pesatnya sesuai dengan kemajuan teknologi. Ragam dan jenis media pun cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kondisi, waktu, keuangan, maupun materi yang akan disampaikan. Setiap jenis media memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menayangkan pesan dan informasi.[3]
Dalam menyampaikan pesan pendidikan agama diperlukan media pengajaran. Media pengajaran pendidikan agama adalah perantara/pengantar pesan guru agama kepada penerima pesan yaitu siswa. Media pengajaran ini sangat diperlukan dalam merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian sehingga terjadi proses belajar mengajar serta dapat memperlancar penyampaian pendidikan agama Islam.[4]
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru atau fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru atau fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.[5]

Salah satu upaya seorang guru untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah penggunaan media pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan pesan-pesannya. Hal ini diperuntukkan bagi siswa yang belum dapat menerima pesan yang disampaikan guru, maka penggunaan media sangat dianjurkan. Dengan demikian penggunaan media untuk menyampaikan pesan pembelajaran akan lebih dihayati tanpa menimbulkan kesalapahaman bagi keduanya yaitu murid dan guru.
Azar Arsyad mengemukakan bahwa pemakaian media pengajar dalam proses belajar mengajar membangkitkan kemajuan dan minat yang baru, bangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa.[6]
Prinsip penggunaan media pembelajaran bahwa dalam penggunaan media siswa harus dipersiapkan dan diperlakukan sebagai peserta yang aktif serta harus ikut bertanggung jawab selama kegiatan pembelajaran, merupakan upaya dalam menimbulkan motivasi dalam bentuk menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar, mengikat perhatian siswa agar senantiasa terikat kepada kegiatan belajar mengajar.
Dalam memilih strategi penggunaan media pembelajaran pendidikan agama di MTs  Nurul Amal Cimoyan Pandeglang, adalah pertama, menentukan jenis media dengan tepat, artinya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan. Kedua, menetapkan atau memperhitungkan subyek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan anak didik. Ketiga, menyajikan media dengan tepat, artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu, dan sarana yang ada. Keempat, menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat, artinya kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses mengajar terus-menerus memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan media.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang peneliti dapati bahwa di MTs  Nurul Amal Cimoyan Pandeglang ini ada sebagian guru yang belum kreatif dalam penggunaan media pembelajaran. Misalnya guru belum mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran atau belum mampu menyusun rancangan pembelajaran dengan baik, guru terbiasa dengan pola pembelajaran melalui ceramah, kurangnya pengetahuan keterampilan dan latihan-latihan yang dapat memacu kreativitas siswa, dan lain sebagainya.
Dengan melihat argumen-argumen tersebut, media pengajaran dapat membantu guru mempermudah proses memahamkan siswa terhadap materi pelajaran, serta sarana pembelajaran yang disiapkan guru untuk memfasilitasi para siswanya belajar, menjadi suatu yang sangat signifikan penyediaannya oleh para guru agar proses pembelajaran semakin efektif, dan kualitas hasil belajar akan semakin meningkat. Terkait dengan itu, guru harus kreatif dalam mempersiapkan media dan sarana pembelajaran, sehingga mampu mengantarkan para siswanya menjadi manusia-manusia cerdas, kreatif, serta memiliki integritas keberagamaan yang kuat.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis berupaya untuk mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul Pengaruh Kreativitas Guru Dalam Penggunaan Media Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Aqidah Akhlak Kelas VIII di MTs Nurul Amal Cimoyan kecamatan Picung kabupaten Pandeglang” dengan harapan kajian ini dapat dipakai bahan pemikiran untuk kegiatan penggunaan media pembelajaran dalam keberhasilan penyampaian Aqidah Akhlak di lembaga pendidikan tersebut.

Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di MTs MALNU Kananga-Pandeglang


A.    Latar Belakang Masalah
Dalam dunia kependidikan, persoalan yang berkenaan dengan guru dan jabatan guru senantiasa menjadi salah satu pokok bahasan yang mendapat tempat tersendiri di tengah-tengah ilmu kependidikan yang begitu luas dan kompleks. Sehubungan dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan guru yang semakin meningkat, baik dalam mutu maupun jumlahnya, maka program pendidikan guru menjadi prioritas pertama dalam program pembangunan pendidikan di negara kita.
Tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik atau guru, karena guru harus memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap calon pendidik atau guru sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[1]
Belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalamproses belajar mengajar selalu ditekankan pada pengertian interaksi yaitu hubungan timbal balik antara guru dengan murid, hubungan interaksi antara guru dengan murid ini harus diikuti oleh tujuan pendidikan.
Dalam upaya membantu murid untuk mencapai tujuan, maka guru harus memaksimalkan peran sebagai guru yang berkompeten, diantaranya mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat.
Harus disadari bahwa mengajar dan belajar mempunyai fungsi yang berbeda, proses yang tidak sama dan terpisah. Perbedaan antara mengajar dan belajar bukan hanya disebabkan karena mengajar dilakukan oleh seorang guru sedangkan proses belajar berlangsung di dalamnya. Bila proses belajar mengajar berjalan secara efektif, itu berarti telah terbina suatu hubungan yang unik antara guru dan murid, proses itu sendiri adalah mata rantai yang menghubungkan antara guru dan murid.[2]
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder, ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain- lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapatdicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru, dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.[3]
Adapun kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab terkait dengan profesi keguruannya. Karena jabatan guru merupakan pekerjaan profesi, maka kompetensi guru sangatlah dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, kompetensi menunjukkan kepada perbuatan yang bersifat rasional untuk mencapai suatu tujuan yang sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi ini diperoleh melalui proses pendidikan atau latihan. Salah satu faktor yang paling menentukan berhasilnya proses belajar mengajar adalah guru, seorang guru perlu memiliki kompetensi untuk mengorganisasi ide-ide yang dikembangkan di kalangan peserta didiknya sehingga dapat menggerakkan minat dan semangat belajar mereka.
Evaluasi merupakan tahapan setelah proses belajar-mengajar dilaksanakan, dengan demikian lengkaplah siklus belajar-mengajar sebagai suatu proses yang interaktif edukatif, mulai dari perumusan tujuan sampai kepada penyediaan sarana pedukung interaksi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antara guru dan anak didik merupakan kegiatan yang dominan. Dalam kegiatan itu, guru tidak hanyamentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mentransfer nilai-nilai lepada anak didik sebagai subyek yang belajar. Kegiatan itu melibatkan komponen- komponen yang antara satu dengan yang lanilla saling menyesuaikan dan menunjang dalam pencapaian tujuan belajar bagi anak didik. Dengan demikian, dalam kegiatan interaksi belajar mengajar, metode bukanlah satu- satunya, tetapi faktor anak didik, guru, alat, tujuan, dan lingkungan juga turut menentukan interaksi tersebut.[4]
Dalam kaitannya dengan peserta didik pada usia dini, maka guru hendaknya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik. Guru dituntut untuk memantau pertumbuhan fisik dan mengeksplorasi potensi yang dimiliki anak, karena pada usia ini kecerdasan mereka sedang berkembang dengan pesat.
Salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan di negara kita adalah disebabkan tenaga pendidik yang kurang berkompeten. Sehingga upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sukar untuk di wujudkan dan pada akhirnya kebodohan akan berdampak pada kemiskinan. Untuk itu, maka guru sebagai komponen pendidikan harus menunjukkan kualitasnya sebagai tenaga pendidik yang ahli dibidangnya.
Fenomena yang sering terjadi, tenaga pendidik khususnya di tingkat MTs (Madrasah Tsanawiyah) belum memenuhi kualifikasi sebagai guru yang berkompeten, khususnya kompetensi pedagogik yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran. Misalnya guru belum mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran atau belum mampu menyusun rancangan pembelajaran dengan baik. Padahal guru tidak lagi bertindak sebagai penyaji informasi tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, maupun pembimbing yang senantiasa berupaya memaksimalkan perkembangan potensi yang dimiliki peserta didik.
Dengan demikian seorang guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang unggul dibidangnya, baik itu kompetensi pedagogik, kepribadian, social maupun kompetensi profesional harus dimiliki oleh seorang guru selaku tenaga pendidik. Masalah kompetensi pedagogik guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis berupaya untuk mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul “ Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di MTs MALNU Kananga-Pandeglang”.

Perbandingan Penggunaan Metode Cermah Dan Diskusi Dalam Memahami Pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Nurul Amal Pusat Menes-Pandeglang


A.    Latar Belakang Masalah
Keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran, tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai materi yang akan disampaikan. Akan tetapi ada faktor-faktor lain yang harus dikuasainya sehingga ia mampu menyampaikan materi secara profesional dan efektif. Menurut Zakiyah Daradjat “… pada dasarnya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan, dan kompetensi dalam cara-cara mengajar.”[1]
Ketiga kompetensi tersebut harus berkembang secara selaras dan tumbuh terbina dalam kepribadian guru. Sehingga diharapkan dengan memiliki tiga kompetensi dasar tersebut seorang guru dapat mengerahkan segala kemampuan dan keterampilannya dalam mengajar secara profesional dan efektif.
Mengenai kompetensi dalam cara-cara mengajar, seorang guru dituntut untuk mampu merecanakan atau mampu menyususun setiap program satuan pelajaran, mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan serta mampu memilih metode yang bervariatif dan efektif.
Ketepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam suatu pembelajaran akan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif yaitu tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sebaliknya ketidaktepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam suatu pembelajaran, maka akan dapat menimbulkan kegagalan dalam mencapai pembelajaran yang efektif yaitu tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Sukadi bahwa “proses pembelajaran yang tidak mencapai sasaran, dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang tidak efektif.”[2]
Dalam pemilihan metode pengajaran ada beberapa faktor yang harus jadi dasar pertimbangan yaitu: berpedoman pada tujuan, perbedaan individual anak didik, kemampuan guru, sifat bahan pelajaran, situasi kelas, kelengkapan fasilitas dan kelebihan serta kelemahan metode pengajaran.[3] Sehingga dengan memperhatikan beberapa faktor pertimbangan tersebut guru dapat menentukan metode mana yang tepat untuk digunakan ketika akan menyampaikan suatu materi pelajaran kepada muridnya, mungkin ia akan menggunakan satu metode saja atau mungkin menggunakan kombinasi dari beberapa metode pengajaran.
Dalam skripsi ini penulis ingin membandingkan penggunaan dua buah metode pengajaran yaitu metode ceramah dan metode diskusi dalam pengajaran bidang studi aqidah akhlak. Metode ceramah adalah suatu metode yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang suatu pokok persoalan atau masalah secara lisan. Dengan metode ceramah, guru akan mudah mengawasi ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran, disebabkan mereka melakukan kegiatan yang sama. Akan tetapi dengan metode tersebut guru sulit mengontrol sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan.
Sedangkan metode diskusi adalah suatu metode pengajaran melalui sarana bertukar pikiran untuk menghadapi persoalan yang dihadapi. Dalam diskusi proses interaksi terjadi antara dua individu atau lebih yang terlibat. Saling menukar pengalaman informasi dalam memecahkan masalah. Akan tetapi dalam diskusi biasanya hanya dikuasai oleh siswa yang suka berbicara. Disamping itu, ada kemungkinan penyimpangan dalam pembicaraan sehingga membutuhkan waktu yang panjang.
Dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan metode ceramah dan metode diskusi diatas, penulis tertarik untuk mengetahui manakah diantara kedua metode tersebut yang lebih efektif untuk dipergunakan dalam pengajaran aqidah akhlak terhadap siswa Madrasah Tsanawiyah. Dalam diskusi penulis bersama teman-teman pada saat perkuliahan bidang studi metodologi pengajaran agama Islam disimpulkan bahwa metode diskusi lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah dalam pengajaran aqidah akhlak pada siswa Madrasah Tsanawiyah, pertimbangannya adalah karena siswa aliyah telah dapat berfikir dewasa dan kritis dalam menyikapi berbagai masalalah.
Akan tetapi bagi penulis jawaban tersebut tidak memuaskan, sehingga penulis berminat untuk mencari jawabannya secara langsung dengan melakukan penelitian pada salah satu Madrasah Tsanawiyah yang ada di Menes-Pandeglang. Dan akhirnya penulis memutuskan memilih MTs Nurul Amal Pusat Menes-Pandeglang sebagai objek penelitian.
Untuk tercapainya tujuan tersebut penulis merumuskan dalam sebuah judul skripsi yaitu: “Perbandingan Penggunaan Metode Cermah Dan Diskusi Dalam Memahami Pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Nurul Amal Pusat Menes-Pandeglang.”

Rabu, 02 Mei 2012

proposal skripsi bahasa indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, terutama dalam teknologi percetakan maka semakin banyak informasi yang tersimpan di dalam buku. Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang harus dikuasai siswa. Dengan membaca siswa akan memperoleh berbagai informasi yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, membaca merupakan jendela dunia, siapa pun yang membuka jendela tersebut dapat melihat dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi. Baik peristiwa yang terjadi pada masa lampau, sekarang, bahkan yang akan datang.
Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca. Oleh karena itu, sepantasnyalah siswa harus melakukannya atas dasar kebutuhan, bukan karena suatu paksaan. Jika siswa membaca atas dasar kebutuhan, maka ia akan mendapatkan segala informasi yang ia inginkan. Namun sebaliknya, jika siswa membaca atas dasar paksaan, maka informasi yang ia peroleh tidak akan maksimal.
Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang yang tertulis semata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca, agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya.
Kegiatan membaca juga merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Dikatakan aktif, karena di dalam kegiatan membaca sesungguhnya terjadi interaksi antara pembaca dan penulisnya, dan dikatakan reseptif, karena si pembaca bertindak selaku penerima pesan dalam suatu korelasi komunikasi antara penulis dan pembaca yang bersifat langsung.
Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi yang dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui berbagai macam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Melalui membaca, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui dan dipahami sebelum dapat diaplikasikan.
Menurut DP. Tampubolon (1987:5) membaca merupakan satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan.
Adapun menurut Henri Guntur Tarigan (1979:1) kemampuan bahasa pokok atau keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi, yaitu :
a.       Keterampilan menyimak/mendengarkan (Listening Skills)
b.      Keterampilan berbicara (Speaking Skills)
c.       Keterampilan membaca (Reading Skills)
d.      Keterampilan Menulis (Writing Skills)
Empat keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lain, dan saling berkorelasi. Seorang bayi pada tahap awal, ia hanya dapat mendengar, dan menyimak apa yang di katakan orang di sekitarnya. Kemudian karena seringnya mendengar dan menyimak secara berangsur ia akan menirukan suara atau kata-kata yang didengarnya dengan belajar berbicara. Setelah memasuki usia sekolah, ia akan belajar membaca mulai dari mengenal huruf sampai merangkai huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata bahkan menjadi sebuah kalimat. Kemudian ia akan mulai belajar menulis huruf, kata, dan kalimat.
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa dan merupakan suatu kegiatan yang mempunyai hubungan dengan proses berpikir serta keterampilan ekspresi dalam bentuk tulisan walaupun menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, tetapi dalam proses pembelajaran bahasa tidak mungkin dipisahkan dengan keterampilan berbahasa yang lain seperti mendengarkan, berbicara an membaca. Keempat keterampilan berbahasa itu terdapat saling melengkapi.
Sebagaimana dalam kurikulum 2004 (KBK) yang kemudian disempurnakan dengan kurikulum 2006 (KTSP) mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (SMA) disebutkan bahwa salah satu tujuan pengajaran bahasa Inggris adalah mengembangkan kemampuan dalam bahasa tersebut, dalam bentuk lisan dan tulis.
Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
Berkomunikasi secara lisan dan tulis dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai secara lancar dan akurat dalam wacana interaksional dan atau monolog yang melibatkan wacana berbentuk, deskriptif, naratif, argumentatif, dan persuasif variasi ungkapan makna interpersonal, ideasional, dan tekstual sederhana (Depdiknas, 2004:8).
Pengajaran keterampilan menulis bahasa Indonesia untuk siswa SMA diarahkan ke pencapaian kompetensi yang dapat terlibat dalam kemampuan siswa mengungkapkan berbagai makna dengan langkah-langkah retorika yang benar di dalam teks tertulis tentang suatu topik berkaitan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual), dengan penekanan ciri-ciri ragam bahasa tulis. Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Menurut Akhadiah, dkk (1988:2) bahasa menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat. Dalam proses pembelajaran keterampilan ini bisa diwujudkan dalam bentuk materi menulis teks berita dengan berbagai indikatornya.
Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan menulis bahasa Indonesia yang diberikan pada siswa kelas XI di SMK  sebagai  Malnu Kananga Menes salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikembangkan di sekolah, dengan tujuan untuk memberikan bekal pada siswa dalam hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Para siswa memposisikan diri sebagai diri sendiri yang memerlukan sesuatu bekal untuk kehidupannya nanti. Siswa perlu mengerti apa makna belajar keterampilan menulis bahasa Inggris bagi dirinya, apa manfaatnya dan bagaimana usaha mereka mencapainya sehingga mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.
Keterampilan berbahasa berkorelasi dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. sehingga ada sebuah ungkapan, “bahasa seseorang mencerminkan pikirannya”. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya.
Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak dini, yakni mulai dari anak mengenal huruf. Jadikanlah kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan dan menjadi hal yang menyenangkan bagi siswa. Membaca dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja asalkan ada keinginan, semangat, dan motivasi. Jika hal ini terwujud, diharapkan membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan seperti sebuah slogan yang mengatakan “tiada hari tanpa membaca”.
Tentunya ini memerlukan ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih kebiasaan membaca agar kemampuan membaca, khususnya membaca pemahaman dapat dicapai. Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan (DP. Tampubolon, 1991:7).
Keluhan tentang rendahnya kebiasaan membaca dan kemampuan membaca di tingkat Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), tidak bisa dikatakan sebagai kelalaian guru pada sekolah yang bersangkutan. Namun hal ini harus dikembalikan lagi pada pembiasaan membaca ketika siswa masih kecil. Peranan orang tualah yang lebih dominan dalam membentuk kebiasaan membaca anak. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki kebiasaan membaca yang tinggi sedangkan orang tuanya tidak pernah memberikan contoh dan mengarahkan anaknya agar terbiasa membaca. Karena seorang anak akan lebih tertarik dan termotivasi melakukan sesuatu kalau disertai dengan pemberian contoh, bukan hanya sekedar teori atau memberi tahu saja. Ketika anak memasuki usia sekolah, barulah guru memiliki peran dalam mengembangkan minat baca yang kemudian dapat meningkatkan kebiasaan membaca siswa. Dengan demikian, orang tua dan guru sama-sama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca anak.
Kenyataan menunjukkan soal-soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) sebagian besar menuntut pemahaman siswa dalam mencari dan menentukan pikiran pokok, kalimat utama, membaca grafik, alur/plot, amanat, setting, dan sebagainya. Tanpa kemampuan membaca pemahaman yang tinggi, mustahil siswa dapat menjawab soal-soal tersebut. Di sinilah peran penting membaca pemahaman untuk menentukan jawaban yang benar. Belum lagi dengan adanya standar nilai kelulusan, hal ini memicu guru bahasa Indonesia khususnya untuk dapat mencapai target nilai tersebut.
Atas dasar hal tersebut penulis mencoba mengadakan penelitian tentang hubungan kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis teks berita . Hasil penelitian tersebut dibahas dalam sekripsi yang berjudul Hubungan Kemampuan Membaca Pemahaman Dengan Kemampuan Menulis Teks Berita Siswa Kelas XI di SMK Malnu Kananga Menes”.

Judul Skripsi Matematika

1.         PENGARUH IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN NOVICK TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK PADA SISWA SMP (SUATU PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMP
2.         KARAKTERISTIK INTEGRAL MCSHANE DI RUANG EUCLID
3.         PENGKLASTERAN DATA DENGAN MENGGUNAKAN DIVISIVE ANALYSIS METHOD (DIANA)
4.         PENERAPAN TEORI KEPUTUSAN DALAM MASALAH TRANSPORTASI : STUDI KASUS PADA DATA TRANSPORTASI ANTARA BANDUNG-JAKARTA YANG DIPEROLEH DARI PERUSAHAAN TRAVEL X-TRANS
5.         PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BRIDGING ANALOGY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN METAKOGNITIF MATEMATIKA SISWA SMP :STUDI EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMPN 1
6.         PROGRAM PENENTUAN KEUNTUNGAN MAKSIMUM AGEN PENGADAAN BARANG METODE SIMPLEKS DIREVISI
7.         KONDISI RANK SEHINGGA MATRIKS AB DAN BA SERUPA
8.         PENGARUH IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DENGAN TEKNIK TWO STAY-TWO STRAY (TS-TS) TERHADAP KREATIVITAS DAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA : PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMPN
9.         PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN LOGIS SISWA SMP : PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMP N
10.      PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN METODE PENEMUAN DAN PENEMUAN TERBIMBING : SUATU PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3
11.      APLIKASI UJI GUGUS SCOTT-KNOTT DALAM BIDANG PERTANIAN : STUDI KASUS: PENGELOMPOKAN PADA DIAMETER BATANG TOMAT
12.      APLIKASI BASIS DATA UNTUK SISTEM INFORMASI KEUANGAN KEPEGAWAIAN
13.      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MISSOURI MATHEMATICS PROJECT (MMP) DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENALARAN DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMA (STUDI EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS X SMA LABORATORIUM PERCONTOHAN)
14.      KEKONVERGENAN LEMAH PADA RUANG VEKTOR BERNORMA
15.      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN M-APOS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN RELASIONAL SISWA(PENELITIAN TERHADAP SISWA KELAS XI SMA NEGERI )
16.      MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN DENGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING ( STUDI EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI )
17.      PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN REALISTIK MELALUI PEMODELAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMA.
18.      MODEL RUNTUN WAKTU DALAM BENTUK STATE-SPACE
19.      ALGORITMA A* DAN ALGORITMA GREEDY DALAM PENCARIAN LINTASAN TERPENDEK
20.      PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN KONSEP UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA SMP ( PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMP NEGERI
21.      APLIKASI TEORI PERMAINAN DALAM MENENTUKAN PANGSA PASAR PENJUALAN SUSU (STUDI KASUS PADA PENJUALAN SUSU PRODUK PT. YAKULT INDONESIA PERSADA DAN PT. INDOLAKTO)
22.      PENGARUH PENERAPAN STRATEGI ”PAIKEM” DENGAN PENDEKATAN INDIRECT INSTRUCTION DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN ADAPTIF SISWA SMP (PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMP NEGERI
23.      APLIKASI STEGANOGRAFI LSB (LEAST SIGNIFICANT BIT) MODIFICATION UNSUR WARNA MERAH PADA DATA CITRA DIGITAL
24.      PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN INDUKTIF MATEMATIK SISWA YANG MEMPEROLEH PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (SUATU PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VII SMP PERTIWI KOTA BANDUNG)
25.      PENGARUH PENGGUNAANMODEL LAPS-HEURISTIC (LOGAN AVENUE PROBLEM SOLVING-HEURISTIC) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA SMA (PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS X SMA NEGERI 1
26.      PERANAN POHON KEPUTUSAN (DECISION TREE) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA PEMBELIAN SEPEDA MOTOR YAMAHA
27.      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NOVICK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN LOGIS SISWA SMP ( STUDI EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VII SMP NEGERI 34 BANDUNG)
28.      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP (STUDI EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMPN 3 LEMBANG)
29.      PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN INTERTEKSTUAL PADA SUBMATERI PERKEMBANGAN TEORI ATOM UNTUK KELAS X
30.      PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CO-OP CO-OP TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA DALAM MATEMATIKA : STUDI EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS XI MAN 1 SUMEDANG
31.      KONDISI-KONDISI YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMERIKSAAN MUTU LOT TERKAIT PENERIMAAN SAMPLING DENGAN MENGGUNAKAN AOQ DAN ATI :STUDI KASUS : INA COOKIES JL. BOJONG KONENG ATAS NO 8
32.      INTEGRAL LEBESGUE DAN SIFAT-SIFATNYA
33.      PENENTUAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA PROSES INJEKSI KONVENSIONAL DENGAN METODE TAGUCHI
34.      EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA MATA PELAJARAN KKPI DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN : STUDI KASUS SMKN
35.      PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN STRATEGI STUDENT TEAM HEROIC LEADERSHIP UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA : PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS XI SMA NEGERI
36.      PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE THINKING ALOUD PAIR PROBLEM SOLVING (TAPPS) UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN ADAPTIF SISWA SMA : PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS X SMAN
37.      MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH : SUATU PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS X SMA NEGERI 22 BANDUNG TAHUN AJARAN 2009/2010
38.      PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL LEARNING CYCLE DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMA : PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS X SMAN
39.      PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP : PENELITIAN EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VIII SMP PRIBADI BILINGUAL
40.      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN M-APOS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP : SUATU STUDI EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 BANDUNG

Selasa, 01 Mei 2012

SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


NO
NAMA JUDUL
KET
1
ELIT USTADZ DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA REMAJA MASJID DI......

2
GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU PAI DI SMPN ......

3
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN DISIPLIN BELAJAR SISWA PADA SAAT LAYANAN PEMBELAJARAN DI KELAS II SMU NEGERI ...... KABUPATEN ...... TAHUN ......

4
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

5
HUBUNGAN ANTARA PENGHAYATAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN MORAL REMAJA AKHIR

6
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MUSLIM KELAS XI SMA NEGERI ......

7
HUBUNGAN KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN BIDAN DESA DALAM MENCEGAH DAN MENGATASI KOMPLIKASI KEHAMILAN DI KABUPATEN ...... TAHUN ......

8
IMPLEMENTASI CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DALAM MENINGKATKAN PRESTASI PEMBELAJARAN FIKIH SISWA KELAS VIII A DI MTsN ......

9
IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI ......

10
IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI MA DARUL ULUM GONDANGLEGI MALANG

11
IMPLEMENTASI MBS DAN KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (STUDI KASUS DI MTs ......)

12
IMPLEMENTASI METODE COOPERATIVE LEARNING DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA DALAM PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS VII MTS ......

13
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN  AL-QUR’AN MELALUI METODE JIBRIL BAGI SANTRI TANFIDZHUL QUR’AN PONDOK-PESANTREN ......

14
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMP ......

15
IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR'AN  DALAM  PRESTASI BELAJAR  MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

16
INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA ISLAM TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER KEROHANIAN ISLAM DI MAN ......

17
KETERKAITAN KERJA DENGAN MOTIVASI BELAJAR PELAJAR DAN MAHASISWA DI WILAYAH RW 07 KAMPUNG ......

18
KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA MADRASAH DALAM MENGEMBANGKAN SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MAN ......

19
KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI SMP NEGERI ......

20
KOMPETENSI SOSIAL GURU PAI DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DI MADRASAH ......

21
KONTRIBUSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN MORAL SISWA di MTs ......

22
KREATIVITAS GURU AL QUR’AN HADITS DALAM MENGELOLA KELAS GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHAFAL SISWA KELAS VII MTS ......

23
MANAJEMEN KELAS DALAM MENCAPAI PROSES BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG EFEKTIF DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI ......

24
MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM(PAI) PADA SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL DISEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) 3 NEGERI ......

25
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

26
MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH (STUDI KASUS DI SMA ISLAM ......)

27
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB BERJANZI

28
PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN PENGEMBANGAN DIRI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI PESERTA DIDIK DI MAN ......

29
PENDIDIKAN NILAI BERBASIS ISLAM (Proses Penanaman Budi Pekerti dalam Bingkai Pendidikan Agama Islam)

30
PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)

31
PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VIII-B UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP NEGERI ......

32
PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN-HADIS KELAS VII MTsN ......

33
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN CONTEXTUALTEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI, KEAKTIFAN DAN KREATIVITAS SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS X JSB.1 DI SMK NEGERI ......

34
PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI ......

35
PENGARUH DISIPLIN BELAJAR, LINGKUNGAN BELAJAR, DAN VARIASI MENGAJAR GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI  PADA SISWA KELAS X SMA ...... TAHUN AJARAN ......

36
PENGARUH FREKUENSI MENONTON TELEVISI TERHADAP PRESTASI BELAJARANAK DI SD

37
PENGARUH HASIL PEMBELAJARAN TPQ TERHADAP PRESTASI BELAJAR AL-QUR’AN HADITS DI MADRASAH IBTIDAIYAH ......

38
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMPN ......

39
PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA SMP NEGER......

40
PENGARUH STRATEGI QUANTUM QUOTIENT DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PAI SISWA DI SMPN ......

41
PENGGUNAAN BILINGUAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKANAGAMA ISLAM DI KELAS ......

42
PENINGKATAN MORAL KEAGAMAAN SISWA KELAS VIII MELALUI  KEGIATAN EKSTRAKURIKULER IMTAQ (IMAN DAN TAQWA) DI SMP NEGERI......

43
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENANAMAN NILAI-NILAI AGAMA ISLAM DI SMK NERGERI ......

44
PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ......

45
PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI......

46
PERBEDAAN CAPAIAN TINGKAT KOMPETENSI DASAR ANTARA METODE CERAMAH DAN SIMULASI DALAM PEMBELAJARAN PERAWATAN JENAZAH DI ......

47
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH SISWA DI SMPN ......

48
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Pungging Mojokerto)

49
STRATEGI PEMBINAAN KEGIATAN KEAGAMAAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI  ......

50
STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMP NEGERI......

51
TUJUAN PENDIDIKAN DALAM AL QUR`AN (Kajian Surat al Furqan ayat 63-77)

52
UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI......

53
UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA  SMA ...... (Kasus di ......)

54
UPAYA PENGEMBANGAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI ......

55
UPAYA PENINGKATAN MUTU PAI MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER (Studi Kasus Di MI ......)